Selasa, 27 Juli 2010

KUNPULAN PUISI HEART WEATHER DALAM TIGA BAHASA


Alhamdulillah adalah kata yang bisa melukiskan perasaan saya saat ini, sebab saat ini kumpulan puisi heart weather yang saya tulis diterbitkan dalam bentuk ebook oleh evolitera.com.
Seluruh sahabat pun bisa mendownload dengan mudah ebook ini, dengan cara mendaftarkan diri menjadi member. Lantas memilih buku yang ingin didownload. Tak hanya itu, seluruh sahabat pun bisa menerbitkan seluruh karyanya di evolitera, setelah terdaftar menjadi member.
Sekilas tentang ebook kumpulan puisi heart weather, ebook ini ditulis dalam tiga bahasa yakni Inggris, Indonesia dan bahasa Madura.
Di dalamnya berisi tentang harapan, kegelisahan yang saya alami. Tak hanya itu, ebook ini memuat puisi-puisi teruntuk para sastrawan yang ikut memeriahkan acara SBSB di Pondok Pesantren Al-Amien tepatnya di Gedung Serba Guna TMI Putri Al-Amien Prenduan Madura 16 Juni 2010. Ebook ini juga dilengkapi dengan puisi cinta dan puisi persahabatan.
Akhirnya hanya kepada Allah saya pasrahkan segala sejarah dan kepada seluruh sahabat, saya ucapkan selamat membaca dan mengapresiasi. Semoga bermanfaat dan bisa menambah khazanah sastra nusantara pada khususnya serta khazanah sastra internasional pada umumnya.
Ini link downlod kumpulan puisi heart weather yang saya tulis http://www.evolitera.co.id/themes/main/product.php?product_id=308&language=en. Salam persahabatan dan salam karya.

Kamis, 22 Juli 2010

CIPASUNG

Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning
Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri
Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu
Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental
Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup
Dan surauku terbakar kesunyian yang dinyalakan rindu

Aku semakin mendekat pada kepunahan yang disimpan bumi
Pada lahan-lahan kepedihan masih kutanam bijian hari
Segala tumbuhan dan pohonan membuahkan pahala segar
Bagi pagar-pagar bambu yang dibangun keimananku
Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan
Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurnianmu

Hari esok adalah perjalananku sebagai petani
Membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat
Pahamilah jalan ketiadaan yang semakin ada ini
Dunia telah lama kutimbang dan berulang kuhancurkan
Tanpa ketam masih ingin kupanen kesabaranmu yang lain
Atas sajadah lumpur aku tersungkur dan terkubur

Biodata Penyair
:Acep Zamzam Noor dilahirkan di Tasikmalaya, 28 Februari 1960. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. 1980 menyelesaikan SLTA di Pondok Pesantren As-Syafi’iyah, Jakarta. Lalu melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1980-1987). Mendapat fellowship dari Pemerintah Italia untuk tinggal dan berkarya di Perugia, Italia (1991-1993). Mengikuti workshof seni rupa di Manila, Filipina (1986), mengikuti workshop seni grafis di Utrecht, Belanda (1996). Mengikuti pameran dan seminar seni rupa di Guangxi Normal University, Guilin, dan Guangxi Art Institute, Nanning, Cina (2009).Puisi-puisinya tersebar di berbagai media massa terbitan daerah dan ibukota. Juga di Majalah Sastra Horison, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Ulumul Qur’an, Jurnal Puisi serta Jurnal Puisi Melayu Perisa dan Dewan Sastra (Malaysia). Sebagian puisinya sudah dikumpulkan antara lain dalam Di Luar Kata (Pustaka Firdaus, 1996), Di Atas Umbria (Indonesia Tera, 1999), Dongeng Dari Negeri Sembako (Aksara Indonesia, 2001), Jalan Menuju Rumahmu (Grasindo, 2004), Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007) serta sebuah kumpulan puisi Sunda Dayeuh Matapoe (Geger Sunten, 1993) yang menjadi nominator Hadiah Rancage 1994. karya-karya puisinya diterjemahkan kedalam berbagai bahasa seperti bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Portugal dan bahasa Jepang serta bahasa Arab. Berbagai penghargaan di bidang sastra diraihnya dan berbagai kegiatan sastra baik di dalam maupun di luar negeri diikutinya. Kini Acep tinggal di kampungnya, Cipasung, lima belas kilometer sebelah barat kota Tasikmalaya. Bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan seraya menulis.

JEJAK DIRI

(Muntok Bangka; Giri Sasana Menumbing)

Napak tilas nenek moyang
Tubuh tubuh pendiriku lampau melayang
Kala timah timah menyusupi tongkang
Penjajah harus mereka tentang

Jejak muntok sebelah barat bangka
Kesaksian bangunan tua
Giri sasana menumbing merenta
Tempat pengasingan sang proklamator terlupa

Setelah melepas sejarah
kala Jejak mencari arah,

Kerusakan alam dan iklim menjadi wacana
Manusia enggan membaca bencana
Pencurian, pencemaran dan vandalisme hanya menjadi bahana
Mereka bangga, kala coretan liar memenuhi wahana

Indonesia tak menangis
Serumpun leluhur tak lagi menitis
Kemandirianlah yang harus merintis
Susuri tapak tentang jejak diri yang terbingkis

2010 "Irfan Firnanda"
Biodata Penyair
Irfan Firnanda, lahir di Jakarta, June 10, 1982. Memiliki hobi membaca, menulis, mendengarkan musik dan menonton film. Kini berdomisili di JL. Elang 10 Blok E16/05 Rt/Rw. 006/013. Kel. Cimuning, Kec. Mustika Jaya, Bekasi Timur Regency - Kota Bekasi. Kalau lebih ingin mengenal pnyair bisa menghubunginya di 0812 789 999 44 / 0811 811 8960 / 021 – 972 923 07/021 – 8261 2043 atau via email : irfan_firnanda@yahoo.com

INDONESIA DALAM PUISI

Akulah negeri kaya
Yang tiada terhingga kekayaannya
Tanda-tanda kehidupan lautku melimpah
Subur makmur gemah ripah loh jinawi
Malam hari para sufi memohon kepadamu Tuhan
Agar indonesia negeriku tetap dalam naungan panca sila

Al-Amien, 2010

Biodata Penyair
Muhammad Zainon, lahir di Sumenep 26 April 1971. Pernah mengikuti Workshop baca puisi bersama WS Rendra di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Juara baca puisi tak terbantahkan sampai saat ini se Madura (penyelenggara teater Akura UNIRA) Pamekasan. Dramawan terbai dalam lakon Syayyid Qutub se Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponerogon (Delegasi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, 1992). Prestasi fenomenal juara pertama baca puisi se Jawa Timur 2 kali, Juara 1 Porseni SMA se Jawa Timur di Tulungagung, 1990 dan juara 1 baca puisi secabang IAIN Sunan Ampel Jawa Timur, 1995.

PERJANJIAN PARA PEJUANG

tanah ini masih saja mendung
sepertinya tak berujung
malah deras hujan makin tampak mengancam
langit kelam, hitam

tanah ini bekas perjanjian para pejuang
darah hanyalah keringat yang terbuang
merdeka atau mati!
maka kami mati

tanah ini pernah muda, pada tahun kampret

bungabunga jatuh
di tanah basah
menyisakan batangbatang penuh lumut
semrawut

kemarin, tanah ini tanah perjanjian
tertulis berjuta harapan bergambar boneka

hari ini, tanah ini tanah serapahan
tertulis maki pada nafas cacingcacing yang bergelinjang
--------------------------------------------------------------

2010

Biodata Penyair
Jurang Sepi adalah nama pena Retno Handoko, lahir di Langkat, Sumatera Utara seorang Mahasiswa Universitas Islam Sumatera Utara jurusan sastra Inggris. Kini berdomisili di Bekasi. Kalau ingin mengenal penyair bisa menghubunginya di 081282825491

NURANI, GARUDA ITU

UDARA merdeka, udara mereka dihirup oleh berjuta mulut menganga. Nurani semakin tua. Ia terbatuk-batuk oleh segala bentuk pembangunan yang menyalahi aturan. Daerah Aliran Sungai tumbuh plaza, hypermarket, dan kondominium sementara di bawahnya gembel-gembel, gelandangan, dan anak jalanan menjolok bulan yang kusam. Pembangunan ekonomi yang gila-gilaan membawa bangsa ini menjadi konsumtif. Segala sesuatu diukur dengan ukuran limpahan materi.

Cuaca senja menjadikan Nurani semakin tua, bungkuk, dan tersaruk-saruk jalannya. Ia membayangkan jembatan dan jalan yang dulu ia bangun dengan gotong royong meneteskan keringat dan darah oleh kaki yang luka, ikhlas menyerahkan sebagian dari tanah dan airnya kini meruah airmata bangsa yang mengais nasib di seelokan dan tumpukan sampah pembangunan. Nurani semakin tua dan merasa sia-sia memanjatkan doa.

Burung-burung senja kembali melintas di atas mega. Garuda masih berpaling ke kanan dan di dadanya tergantung perisai yang penuh dengan simbol-simbol. Garuda itu terbang menembus mega, melabrak awan berarak, terbang bebas mengepakkan sayap-sayap keperkasaan. Nurani berbisik dalam hati, "akulah garuda yang melintas mega. Aku terbang menembus gumpalan awan menuju sarang keabadian. Ya, Allah jadikan sayapku perkasa mengepakkan doa-doa purba. Jadikan bulu-bulu di sekujur tubuhku sebagai rindu anak-cucu. Izinkan kini aku terbang menuju pulang ke sarang. Telah kulewati musim-musim pancaroba dan kini senja telah tiba. Aku terbang menuju Gerbang Istana-Mu, mengepakkan sayap-sayap rindu."

Garuda itu kini terbang di keluasan hatiku. Darahku berdebur-debur,menggelombang menerjang karang-karang kehidupan yang keras. Dinding-dinding dadaku menyatu dengan langit biru, menyimpan segala rindu.

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri
Jambi 19 juli 2010
Biodata Penyair
Dimas Arika Mihardja adalah seorang penyair Angkatan 2000 dan sekaligus seorang dosen puisi di Universitas Jambi

GARUDA PERTIWI

Akulah sang pengembara yang tak miliki pagi,siang,malam...
Bilangan masa bagiku sama saja...
Elang sang pengembara sejati, kembali dengan bekal yang cukup tinggi
Air mata darah itu makin mengiris semua lara...
Kesakitan yang teramat sangat...
Ku terbang tinggi melibas kabut langit melalukan badai!
Paruhku mencium sesuatu
Bau apapun cinta itu akan kuat jika berasal dari kuilNYA
Sebilah rindu menyembelih membabit!
Pencapain itu baru dimulai
Masih belum selesai...
Dan sepertinya tak akan pernah selesai karena setiap helaan nafas adalah obsesi.....
Mimpi-mimpi yang harus terbeli....
Lelaki tanpa senyum
Berdiri bak patung
Matanya membuang pandang sangat jalang
Bicarapun jarang
Sekali bicara, ia bak singa lapar....
Liar, gahar
Sangar mengaumkan kekecewaan pada gurun yang telah diberinya oase sekian
banyak...
Peluhnya tak terbayar!
Jangan salahkan ia jika harus menjadi pembunuh berdarah dingin
Boleh saja kau bersyair sedih..kecewa..lara apapun yang buruk-buruk itu..
Namun ungkapkan dengan sejatinya lelaki!
Meski dengan air mata tertahan
Kalau perlu jadikan batu air mata darahmu itu!
Lalu lelaki itu datang lagi
Ia kembali untuk menggugat..menggugah..menggubah...mengubah bangsa dan negeri ini
Ia tak pernah berhenti terbang...rela mengorbankan hatinya...cintanya buat sebuah pilihan!...
Menerjang kabut,melibas savanna kering, melintas pasir panas yang berbisik...
Memburumu atasNYA
Sayap-sayap baja yang kuat buat bangkitkan bangsa yang makin lemah ini..

Ia membela ibunya

Pertiwi yang kian hari menangis darah!
Ia dengan paruh tajamnya akan mematuk mata-mata kalian!
Para pendurhaka pertiwi...ibu kita yang tak lagi kuasa menahan air mata darahnya...
Merdekalah jiwa-jiwa!
Ia telah datang dengan sebentuk cinta yang sungguh untuk sebuah pembaharuan!
Geliat liat tubuhnya dan tubuhku
Adalah pemberontakan liar yang segera menggempur kau pengkhianat negeri!

Menteng Dalam Jakarta, 23 Mei 2010, buat laskar elang!


Biodata Penyair
Kirana Kejora dengan nama pena Eagle fly alone Terlahir di kota Ngawi, 2 Pebruari, single figther dari dua matahari titipan Tuhan, ”ELANG” Arga Lancana Yuananda (15) dan ”EIDELWEIS” Bunga Almira Yuananda (10). Mulai mencintai kertas dan pena sejak usia 9 tahun. Cinta pada puisi, prosa dan seni peran meski tak pernah ada dukungan formal sepanjang hayat. Just ordinary people. Hanya lulusan cumlaude Fakultas Perikanan Univ. Brawijaya yang dulu hanya jurnalis sebuah tabloid kecil di Surabaya, penulis lepas beberapa media cetak, dan kebetulan pernah menjadi Pemakalah, Pembicara pada Seminar Wajah Kepengarangan Muslimah Nusantara Di Malaysia pada tahun 2009. Merasa besar dan belajar di jalan, gunung, gurun, laut, dan langit yang terus dirunut bersama kawan, sahabat, dan saudara yang ditemukan di manapun.Juga banyak belajar pada debu dan angin. Dan merasa wajib terus belajar, berujar, mengejar, setelah kebetulan lagi, bisa menulis 30 Script Film TV, 4 Script Film Layar Lebar, 3 video klip solois Nena (script & director), video klip single ”Aku Selingkuh” by Ade Virguna (script & director) dan kolaborasi 8 puisi dalam album Selingkuh (independent album) dengan Ade Virguna (gitaris Jet Liar dan RriD), serta Alhamdulillah bisa menulis buku Kepak Elang Merangkai Eidelweis (Novelete & Antologi Puisi Tunggal), Selingkuh (Antologi Tunggal Cerpen & Puisi), Perempuan & Daun (Antologi Tunggal Cerpen & Puisi), berbagi puisi di buku Musibah Gempa Padang (Antologi Penyair Indonesia-Malaysia), dan kembali bisa melahirkan Elang (Novel) dan Janji Biru Mahameru (Novel). Kirana Kejora merasa masih menjadi sehelai bulu ayam yang ingin menjadi sayap elang.