Sebuah Ulasan Puisi berjudul andai aku lautan karya Mbak Nurjanah Yahya
Puisi memang sangat akrab dengan kehidupan manusia. Puisi bisa dipilih oleh seseorang untuk menerjemahkan harapan ke dalam kata seperti yang dilakukan oleh penulis yang lebih dikenal dengan sebutan Nur ini, namun karena penulisnya lebbih tua dari saya dan sudah mempunyai anak satu maka saya pun memanggilnya dengan sebutan Mbak Nur.
Mbak Nur ini adalah salah satu dari sekian perempuan negri bahkan dunia yang memilih menerjemahkan harapan atau perasaannya ke dalam kata.
Hal semacam ini sudah lumrah terjadi. Berikut saya kutip secara lengkap puisi yang ditulisnya dengan begitu romantis.
Harapan yang disampaikan seperti cara yang Mbak Nur pilih bisa saja menjadi cara alternatif yang unik untuk menyampaikan perasaan kepada siapa saja yang hendak dituju.
Kebetulan puisi ini bertema harapan yang penuh dengan nuansa cinta, nuansa yang menawarkan pengakuan atas ketidak berdayaan penyairnya namun tidak lemah dengan kata lain tidak rapuh.
andai aku lautan..
andai aku lautan..
aku pasti akan menelan semua bulir air hujan yang dijatuhkan oleh langit..
atau menyimpan tangis gelombang yang meraung-raung dipermainkan badai..
atau meredam lengkingan amuk petir yang menampar-nampar punggung langit..
tapi aku..
aku tidaklah sehebat itu semua..
aku hanyalah seperti segelas air teh hangat beraroma lemon kesukaanmu..
yang bersyukur bisa menemanimu setiap hari..
dan berharap kau tak pernah lupa meminumnya..
Puisi ini hanya terdiri dari dua bait, namun berhasil disampaikan dengan penuh romansa cinta.
Pada bait pertama, Mbak Nur menegaskan sikapnya yang serva kekurangan. Mbak Nur ingin memberikan suatu yang sangat berharga. Mbak Nur ingin menjadi jiwa yang penuh manfaat. andai aku lautan../aku pasti akan menelan semua bulir air hujan yang dijatuhkan oleh langit../atau menyimpan tangis gelombang yang meraung-raung dipermainkan badai../atau meredam lengkingan amuk petir yang menampar-nampar punggung langit..
Impian ini disampaikan dengan penuh ketegasan dan meyakinkan agar semua jiwa yang membaca karya ini, bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh penyairnya.
Pada bait kedua, impian yang disampaikan tersebut diakui sangat musykil untuk dilaksanakan karena dengan tegas penyair menyatakan jatidirinya tapi aku../aku tidaklah sehebat itu semua..//aku hanyalah seperti segelas air teh hangat beraroma lemon kesukaanmu../yang bersyukur bisa menemanimu setiap hari../dan berharap kau tak pernah lupa meminumnya..
Hal semacam ini yang selayaknya disampaikan seseorang kepada jiwa yang menjadi pilihan jiwamu agar dia mengerti tentang segala kekurangan pasangan dalam menjalani hidup sehingga bisa tercipta saling melengkapi. Kita dapat saksikan kalimat romantis dalam puisi ini, ku hanyalah seperti segelas air teh hangat beraroma lemon kesukaanmu../ yang bersyukur bisa menemanimu setiap hari../dan berharap kau tak pernah lupa meminumnya..
Dengan begitu tawadlu’nya penyair menyadari kekurangan yang ada pada dirinya. Namun, di tengah serba ketidak sempurnaan, penyair masih bisa bersyukur. Sungguh pengalaman batin yang patut kita acungi jempol khususnya dalam perjalanan hidup ini yang sarat dengan perjuangan dan pertarungan nurani.
Al-Amien, 28 April 2010
Tampilkan postingan dengan label ULASAN PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ULASAN PUISI. Tampilkan semua postingan
Rabu, 28 April 2010
MENGENAL SPRITUALITAS AHMADUN YOSI HERFANDA
Sebuah ulasan puisi terhadap karya Ahmadun Yosi Herfanda Sembahyang Rumputan
Oleh Moh. Ghufron Cholid
Puisi adalah risalah hati yang ingin disampaikan seseorang kepada siapa saja yang hendak dituju lewat kata-kata. Cara ini, biasa sering dipakai untuk mengapresiasikan perasaan bahagia, duka dan semacamnya.
Hal semacam ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Karena puisi bukan hanya milik para sastrawan saja. Pusi milik semua yang ingin mengaktulisasikan dan membahasan seluruh apa yang disaksikan, seluruh apa yang didengar dan seluruh apa-apa yang disaksikan.
Demikianlah kiranya yang dilakukan oleh seorang penyair kondang kita Mas Ahmadun Yosi Herfanda lewat puisinya berjudul SEMBAHYANG RUMPUTAN. Berikut kutipan lengkapnya.
SEMBAHYANG RUMPUTAN
walau kaubungkam suara azan
walau kaugusur rumah-rumah tuhan
aku rumputan
takkan berhenti sembahyang
:inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil ‘alamin
topan menyapu luas padang
tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam sembahyang
akarku yang mengurat di bumi
tak berhenti mengucap shalawat nabi
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan
walau kautebang aku
akan tumbuh sebagai rumput baru
walau kaubakar daun-daunku
akan bersemi melebihi dulu
aku rumputan
kekasih tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan
aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang
:sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi allah tuhan sekalian alam
pada kambing dan kerbau
daun-daun hijau kupersembahkan
pada tanah akar kupertahankan
agar tak kehilangan asal keberadaan
di bumi terendah aku berada
tapi zikirku menggema
menggetarkan jagat raya
: la ilaaha illalah
muhammadar rasululah
aku rumputan
kekasih tuhan
seluruh gerakku
adalah sembahyang
1992
Secara garis besar puisi ini melukiskan ketegasan penyair terhadap apa yang diyakininya.
Pada bait pertama dengan begitu tegasnya, penyair menyatakan sikapnya terhadap adzan dan sembahyang. Keduanya takkan pernah hilang hingga kapanpun. Keduanya akan selalu ada, akan sia-sia semua oknum yang akan menghapus adzan dan sembahyang dalam kehidupan manusia walau kaubungkam suara azan/walau kaugusur rumah-rumah tuhan/aku rumputan/takkan berhenti sembahyang/:inna shalaati wa nusuki/wa mahyaaya wa mamaati/lillahi rabbil ‘alamin. Dengan begitu tegas penyair menyatakan dirinya akan selalu sembahyang meski dia hanya rumputan. Hanya rakyat yang mudah diinjak. Meski dia hanya jiwa yang mudah untuk dijajah. Kita bisa memahami mengapa penyair bisa menyatakan sikapnya dengan begitu tegas, karena penyair menyadari bahwa semua yang dilakukan penyair hanya semata-mata lahir atau diperoleh dari Tuhan yang Maha pemberi maka tidaklah mengherankan bahwa segala usaha yang penyair lakukan semata-mata mengharap ridlaNya. Hal ini sangat lumrah sebagai rasa syukur atas segala anugrah.
Pada bait kedua, lagilagi penyair dihadapkan dengan rintangan. Penyair dihadapkan dengan pergolakan batin yang sangat memaksa dirinya untuk bimbang namun dalam meski bimbang penyair tetap sadar akan jatidirinya. Penyair tetap mengerjakan apa yang telah diyakininya yaitu penyair tetap melakukan sembahyang. Sungguh panorama yang indah, dimana seorang hamba dalam keadaan terdesak masih bisa mengerjakan apa yang diyakini dan tidak terpengaruh oleh ancaman bahkan tindakan yang mempengaruhi hidupnya. Yang mempengaruhi ketenangannya.
Pada bait ketiga, penyair dengan totalitas pengakuannya menyatakan diri bahwa kepasrahan yang dilakukan tidak hanya sekedar kepasrahan tetapi kepasrahan yang benar-benar total. Keyakinan penyair tidak setengah-setengah sekali penyair ingin beribadah maka jiwa raganya akan bersama-sama beribadah. Hal semacam ini yang kita rindukan.
Pada bait keempat, lebih berani penyair menyatakan sikapnya. Penyair tidak akan pernah takut terhadap ancaman maupun tindakan siapapun yang akan menghalanginya dalam beribadah. Penyair berkeyakinan, akan senantiasa tumbuh rumput baru yang lebih semangat dalam bersembahyang dalam dirinya. Sebuah pengakuan yang sangat berani dan sangat berisiko ini sangat disadari oleh penyair. Beginilah lukisan seorang hamba yang memiliki keyakinan yang total pada Tuhan yang diyakininya. Dia tidak akan pernah takut dengan semua bahaya yang akan dihadapinya.
Pada bait kelima, sekedar meyakinkan siapapun yang masih belum percaya kepada keyakinan yang dimiliki, penyair menyampaikan risalah hatinya sebagai wujud solidaritas kemanusiaan yang tinggi. Hal ini terlukis secara gambalnga, aku rumputan//kekasih tuhan/di kota-kota disingkirkan/alam memeliharaku subur di hutan. Penyair sangat menyadari menjadi rumput kekasih Tuhan tidaklah mudah, bisa dikatan membutuhkan pengorbanan. Harus berani disingkirkan dari keramaian. Namun, meski begitu akan selalu tumbuh dalam keterasingan. Tumbuh dengan indah di hutan (tempat asing), tempat yang kurang diminati untuk dihuni oleh manusia pada umumnya.
Pada bait keenam, penyair kembali mempertegas jatidirinya. Penyair kembali mengingatkan semua yang mengenalnya baik yang mengaguminya maupun yang berniat menyingkirkan keberadaannya kalau penyair hanya rumputan yang takkan berhenti sembahyang. Hal semacam ini yang kiranya kurang mendapatkan respon positif dari berbagai kalangan termasuk kita sebagai manusia.
Pada bait ketujuh, penyair senantiasa mengfungsikan diri sebagai jiwa yang penuh manfaat, baik bagi yang sering menganiaya maupun kalangan yang sering tertindas.
Pada bait kedelapan menurut saya adalah bait yang paling romantis karena bait ini yang menjadi ruh dari puisi ini. Ruh puisi yang melukiskan hakekat seorang hamba dihadapan Tuhan. Marilah kita simak sejenak atau kita renungkan bait pamungkas dari puisi ini, aku rumputan/kekasih tuhan/seluruh gerakku/adalah sembahyang.
Bait inilah yang sangat menyita seluruh imaji saya dalam membedah ruh yang ada dalam puisi ini. Bait ini pulalah yang harus menjadi renungan kita bersama. Sudahkah kita melakukan isi yang ada dalam puisi ini.
Demikian ulasannya atas puisi yang berjudul SEMBAHYANG RUMPUTAN yang menurut saya adalah karya yang paling mutiara dibandingkan karya-karya lain yang pernah ditulis Mas Ahmadun Yosi Herfanda semoga syair ini tidak hanya menjadi slogan semata bagi kita semua. Akhirnya hanya kepada Tuhan saya haturkan terimakasih karena telah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengulas karya yang saya kagumi ini. Kepada seluruh pembaca selamat menikmati dan selamat menafsirkan dalam gerak nyata. Salam persahabatan dan salam karya.
Al-Amien, 27 April 2010
Biodata Penulis
Seorang Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA).
Oleh Moh. Ghufron Cholid
Puisi adalah risalah hati yang ingin disampaikan seseorang kepada siapa saja yang hendak dituju lewat kata-kata. Cara ini, biasa sering dipakai untuk mengapresiasikan perasaan bahagia, duka dan semacamnya.
Hal semacam ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Karena puisi bukan hanya milik para sastrawan saja. Pusi milik semua yang ingin mengaktulisasikan dan membahasan seluruh apa yang disaksikan, seluruh apa yang didengar dan seluruh apa-apa yang disaksikan.
Demikianlah kiranya yang dilakukan oleh seorang penyair kondang kita Mas Ahmadun Yosi Herfanda lewat puisinya berjudul SEMBAHYANG RUMPUTAN. Berikut kutipan lengkapnya.
SEMBAHYANG RUMPUTAN
walau kaubungkam suara azan
walau kaugusur rumah-rumah tuhan
aku rumputan
takkan berhenti sembahyang
:inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil ‘alamin
topan menyapu luas padang
tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam sembahyang
akarku yang mengurat di bumi
tak berhenti mengucap shalawat nabi
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan
walau kautebang aku
akan tumbuh sebagai rumput baru
walau kaubakar daun-daunku
akan bersemi melebihi dulu
aku rumputan
kekasih tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan
aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang
:sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi allah tuhan sekalian alam
pada kambing dan kerbau
daun-daun hijau kupersembahkan
pada tanah akar kupertahankan
agar tak kehilangan asal keberadaan
di bumi terendah aku berada
tapi zikirku menggema
menggetarkan jagat raya
: la ilaaha illalah
muhammadar rasululah
aku rumputan
kekasih tuhan
seluruh gerakku
adalah sembahyang
1992
Secara garis besar puisi ini melukiskan ketegasan penyair terhadap apa yang diyakininya.
Pada bait pertama dengan begitu tegasnya, penyair menyatakan sikapnya terhadap adzan dan sembahyang. Keduanya takkan pernah hilang hingga kapanpun. Keduanya akan selalu ada, akan sia-sia semua oknum yang akan menghapus adzan dan sembahyang dalam kehidupan manusia walau kaubungkam suara azan/walau kaugusur rumah-rumah tuhan/aku rumputan/takkan berhenti sembahyang/:inna shalaati wa nusuki/wa mahyaaya wa mamaati/lillahi rabbil ‘alamin. Dengan begitu tegas penyair menyatakan dirinya akan selalu sembahyang meski dia hanya rumputan. Hanya rakyat yang mudah diinjak. Meski dia hanya jiwa yang mudah untuk dijajah. Kita bisa memahami mengapa penyair bisa menyatakan sikapnya dengan begitu tegas, karena penyair menyadari bahwa semua yang dilakukan penyair hanya semata-mata lahir atau diperoleh dari Tuhan yang Maha pemberi maka tidaklah mengherankan bahwa segala usaha yang penyair lakukan semata-mata mengharap ridlaNya. Hal ini sangat lumrah sebagai rasa syukur atas segala anugrah.
Pada bait kedua, lagilagi penyair dihadapkan dengan rintangan. Penyair dihadapkan dengan pergolakan batin yang sangat memaksa dirinya untuk bimbang namun dalam meski bimbang penyair tetap sadar akan jatidirinya. Penyair tetap mengerjakan apa yang telah diyakininya yaitu penyair tetap melakukan sembahyang. Sungguh panorama yang indah, dimana seorang hamba dalam keadaan terdesak masih bisa mengerjakan apa yang diyakini dan tidak terpengaruh oleh ancaman bahkan tindakan yang mempengaruhi hidupnya. Yang mempengaruhi ketenangannya.
Pada bait ketiga, penyair dengan totalitas pengakuannya menyatakan diri bahwa kepasrahan yang dilakukan tidak hanya sekedar kepasrahan tetapi kepasrahan yang benar-benar total. Keyakinan penyair tidak setengah-setengah sekali penyair ingin beribadah maka jiwa raganya akan bersama-sama beribadah. Hal semacam ini yang kita rindukan.
Pada bait keempat, lebih berani penyair menyatakan sikapnya. Penyair tidak akan pernah takut terhadap ancaman maupun tindakan siapapun yang akan menghalanginya dalam beribadah. Penyair berkeyakinan, akan senantiasa tumbuh rumput baru yang lebih semangat dalam bersembahyang dalam dirinya. Sebuah pengakuan yang sangat berani dan sangat berisiko ini sangat disadari oleh penyair. Beginilah lukisan seorang hamba yang memiliki keyakinan yang total pada Tuhan yang diyakininya. Dia tidak akan pernah takut dengan semua bahaya yang akan dihadapinya.
Pada bait kelima, sekedar meyakinkan siapapun yang masih belum percaya kepada keyakinan yang dimiliki, penyair menyampaikan risalah hatinya sebagai wujud solidaritas kemanusiaan yang tinggi. Hal ini terlukis secara gambalnga, aku rumputan//kekasih tuhan/di kota-kota disingkirkan/alam memeliharaku subur di hutan. Penyair sangat menyadari menjadi rumput kekasih Tuhan tidaklah mudah, bisa dikatan membutuhkan pengorbanan. Harus berani disingkirkan dari keramaian. Namun, meski begitu akan selalu tumbuh dalam keterasingan. Tumbuh dengan indah di hutan (tempat asing), tempat yang kurang diminati untuk dihuni oleh manusia pada umumnya.
Pada bait keenam, penyair kembali mempertegas jatidirinya. Penyair kembali mengingatkan semua yang mengenalnya baik yang mengaguminya maupun yang berniat menyingkirkan keberadaannya kalau penyair hanya rumputan yang takkan berhenti sembahyang. Hal semacam ini yang kiranya kurang mendapatkan respon positif dari berbagai kalangan termasuk kita sebagai manusia.
Pada bait ketujuh, penyair senantiasa mengfungsikan diri sebagai jiwa yang penuh manfaat, baik bagi yang sering menganiaya maupun kalangan yang sering tertindas.
Pada bait kedelapan menurut saya adalah bait yang paling romantis karena bait ini yang menjadi ruh dari puisi ini. Ruh puisi yang melukiskan hakekat seorang hamba dihadapan Tuhan. Marilah kita simak sejenak atau kita renungkan bait pamungkas dari puisi ini, aku rumputan/kekasih tuhan/seluruh gerakku/adalah sembahyang.
Bait inilah yang sangat menyita seluruh imaji saya dalam membedah ruh yang ada dalam puisi ini. Bait ini pulalah yang harus menjadi renungan kita bersama. Sudahkah kita melakukan isi yang ada dalam puisi ini.
Demikian ulasannya atas puisi yang berjudul SEMBAHYANG RUMPUTAN yang menurut saya adalah karya yang paling mutiara dibandingkan karya-karya lain yang pernah ditulis Mas Ahmadun Yosi Herfanda semoga syair ini tidak hanya menjadi slogan semata bagi kita semua. Akhirnya hanya kepada Tuhan saya haturkan terimakasih karena telah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengulas karya yang saya kagumi ini. Kepada seluruh pembaca selamat menikmati dan selamat menafsirkan dalam gerak nyata. Salam persahabatan dan salam karya.
Al-Amien, 27 April 2010
Biodata Penulis
Seorang Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA).
Selasa, 27 April 2010
TARIQOH SRIPUAL DALAM PUISI
Sebuah Ulasan Puisi Terhadap Karya Jamal D Rahman berjudu Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami yang diterbitkan di situs pribadinya http://jamaldrahman.wordpress.com/puisi/karena-laut-menggemuruh-dalam-rakaat-kami/
Berikut ini izinkan saya mengulas karya penyair Indonesia yang berasal dari tanah Madura. Tanah yang akrab budaya, akrab tatatkrama.
Lagi-lagi puisi menjadi pelampiasan seseorang untuk melukiskan segala badai yang ada dalam sanubarinya dalam wujud kata-kata. Kalau bisa saya ibaratkan, puisi bisa kita katakan tariqoh dalam menjabarkan luapan batin seseorang kepada dirinya sendiri. Seseorang kepada orang lain ataupun seorang hamba kepada Tuhan yang telah diyakininya.
Kali ini Mas Jamal D Rahman datang dengan wajah baru. Datang dengan wajah yang penuh renungan. Penuh dengan fatwa yang saya rasa cukup tegas.
Puisi ini lahir dari kegelisahan seorang Jamal D Rahman dalam menyaksikan kenyataan hidup. Jamal mencoba keluar dari kehidupan yang penuh kegelisahan kepada kehidupan yang penuh kebahagiaan. Semua cara ditempuh untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Marilah kita simak sejenak puisi berjudul Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami yang ditulis oleh Mas Jamal D Rahman pada tahun 2002. Namun meski terbilang sudah 8 tahun penulisan puisi isi masih menggoda hati saya untuk mengulasnya karena memang masih relevan dengan kehidupan di jaman sekarang.
Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami
Puisi Jamal D. Rahman
karena ingin siang tidak berganti,
matahari kami pindahkan ke rumah kami. berkali-kali.
kami luput, dan jadi tahu:
siang terang bukan karena matahari,
tapi karena sungai membuncah dalam tangis kami
karena ingin malam tidak berganti,
rembulan kami pindahkan ke rumah kami. berkali-kali.
kami luput, dan jadi tahu:
malam terang bukan karena rembulan,
tapi karena laut menggemuruh dalam rakaat-rakaat kami
2002
Puisi yang hanya terdiri dari dua bait ini, telah menuntaskan permasalahan yang ada. Puisi ini adalah jawaban dari kegelisahan seorang penyair tentang apa yang dialaminya mungkin juga pernah kita alami dan pernah kita saksiakan dalam kehidupan nyata kita.
Baiklah kita bahas dan kita bedah puisi ini bait demi bait sehingga nantinya kita bisa merasakan kehadiran puisi ini dalam kehidupan kita.
Pada bait pertama, penyair mencoba mencari jawaban atas segala keresahan tentang terang yang ingin diperolehnya, tentang kebahagiaan yang hendak didekapanya. Namun penyair menemukan suatu kejutan yang lain. Ternyata terang hidup itu tak diperoleh karena Matahari di pindah ke dalam rumah atau kekuasaan dipindah kedalam kehidupan nyata, dalam tempat yang biasa yang ditempati melainkan kebahagiaan itu ada atau kebersamaan itu ada lantaran sungai membucah dalam tangis kami.
Dengan kata lain bisa kita artikan bahwa kebahagiaan itu ada dalam kebersamaan meski semua mengalami luka jika dijalani dengan bersama-sama maka akan tanpak ringan dan tanpak mempesona.
Secara garis besar bait pertama ini menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada dalam kebersamaan bukan dalam kekuasaan yang dapat digenggamnya dalam rumah hingga dalam ranah yang lebih luas.
Sementara bait kedua lebih romantis dalam lebih tegas. Malam dan rembulan memang tidak bisa dipisahkan. Agar malam dan rembulan lebih terlihat mempesona dan tidak bisa digantikan dengan panorama lainnya, maka diadakanlah usaha untuk memindahkannya ke dalam rumah secara berkali-kali namun sebesar itu pula penyair mendapatkan kekecewaan. Namun dalam kekecewaan penyair masih menemukan jawaban bahwa terangnya panorama hati, kebahagiaan itu selalu ada bukan karena telah berhasil memindahkan pesona malam ke dalam rumah melainkan karena laut bergemuruh dalam rakaat kami.
Secara sadar penyair mengakui bahwa laut yang bergemuruh dalam rakaat penyair dan orang-orang yang berada disekitar penyair yang melabuhkan segala perasaannya kepada Tuhan disanalah dia mendapatkan kebahagiaan.
Dua bait puisi ini, kata kuncinya berada pada baris terakhir pada tiap bait. Bait pertama berbunyi tapi karena sungai membuncah dalam tangis kami yang melukiskan betapa kebersamaan itu harus selalu ada dalam tiap tawa ataupun luka. Sementara bait kedua yang menjadi kunci dari semua gembok kata yang ada berbunyi tapi karena laut menggemuruh dalam rakaat-rakaat kami yang melukiskan penghambaan yang utuh kepada Tuhan.
Puisi Mas Jamal D Rahman berjudul Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami bisa kita sebut tariqoh spritual dalam puisi.
Terlepas puisi ini sudah berhasil atau tidak dalam meyampaikan risalah hati maka biarkanlah zaman yang akan membahasnya. Mari kita beri aplus kepada Mas Jamal D Rahman dengan puisinya berjudul Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami.
Al-Amien, 28 April 2010
Berikut ini izinkan saya mengulas karya penyair Indonesia yang berasal dari tanah Madura. Tanah yang akrab budaya, akrab tatatkrama.
Lagi-lagi puisi menjadi pelampiasan seseorang untuk melukiskan segala badai yang ada dalam sanubarinya dalam wujud kata-kata. Kalau bisa saya ibaratkan, puisi bisa kita katakan tariqoh dalam menjabarkan luapan batin seseorang kepada dirinya sendiri. Seseorang kepada orang lain ataupun seorang hamba kepada Tuhan yang telah diyakininya.
Kali ini Mas Jamal D Rahman datang dengan wajah baru. Datang dengan wajah yang penuh renungan. Penuh dengan fatwa yang saya rasa cukup tegas.
Puisi ini lahir dari kegelisahan seorang Jamal D Rahman dalam menyaksikan kenyataan hidup. Jamal mencoba keluar dari kehidupan yang penuh kegelisahan kepada kehidupan yang penuh kebahagiaan. Semua cara ditempuh untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Marilah kita simak sejenak puisi berjudul Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami yang ditulis oleh Mas Jamal D Rahman pada tahun 2002. Namun meski terbilang sudah 8 tahun penulisan puisi isi masih menggoda hati saya untuk mengulasnya karena memang masih relevan dengan kehidupan di jaman sekarang.
Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami
Puisi Jamal D. Rahman
karena ingin siang tidak berganti,
matahari kami pindahkan ke rumah kami. berkali-kali.
kami luput, dan jadi tahu:
siang terang bukan karena matahari,
tapi karena sungai membuncah dalam tangis kami
karena ingin malam tidak berganti,
rembulan kami pindahkan ke rumah kami. berkali-kali.
kami luput, dan jadi tahu:
malam terang bukan karena rembulan,
tapi karena laut menggemuruh dalam rakaat-rakaat kami
2002
Puisi yang hanya terdiri dari dua bait ini, telah menuntaskan permasalahan yang ada. Puisi ini adalah jawaban dari kegelisahan seorang penyair tentang apa yang dialaminya mungkin juga pernah kita alami dan pernah kita saksiakan dalam kehidupan nyata kita.
Baiklah kita bahas dan kita bedah puisi ini bait demi bait sehingga nantinya kita bisa merasakan kehadiran puisi ini dalam kehidupan kita.
Pada bait pertama, penyair mencoba mencari jawaban atas segala keresahan tentang terang yang ingin diperolehnya, tentang kebahagiaan yang hendak didekapanya. Namun penyair menemukan suatu kejutan yang lain. Ternyata terang hidup itu tak diperoleh karena Matahari di pindah ke dalam rumah atau kekuasaan dipindah kedalam kehidupan nyata, dalam tempat yang biasa yang ditempati melainkan kebahagiaan itu ada atau kebersamaan itu ada lantaran sungai membucah dalam tangis kami.
Dengan kata lain bisa kita artikan bahwa kebahagiaan itu ada dalam kebersamaan meski semua mengalami luka jika dijalani dengan bersama-sama maka akan tanpak ringan dan tanpak mempesona.
Secara garis besar bait pertama ini menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada dalam kebersamaan bukan dalam kekuasaan yang dapat digenggamnya dalam rumah hingga dalam ranah yang lebih luas.
Sementara bait kedua lebih romantis dalam lebih tegas. Malam dan rembulan memang tidak bisa dipisahkan. Agar malam dan rembulan lebih terlihat mempesona dan tidak bisa digantikan dengan panorama lainnya, maka diadakanlah usaha untuk memindahkannya ke dalam rumah secara berkali-kali namun sebesar itu pula penyair mendapatkan kekecewaan. Namun dalam kekecewaan penyair masih menemukan jawaban bahwa terangnya panorama hati, kebahagiaan itu selalu ada bukan karena telah berhasil memindahkan pesona malam ke dalam rumah melainkan karena laut bergemuruh dalam rakaat kami.
Secara sadar penyair mengakui bahwa laut yang bergemuruh dalam rakaat penyair dan orang-orang yang berada disekitar penyair yang melabuhkan segala perasaannya kepada Tuhan disanalah dia mendapatkan kebahagiaan.
Dua bait puisi ini, kata kuncinya berada pada baris terakhir pada tiap bait. Bait pertama berbunyi tapi karena sungai membuncah dalam tangis kami yang melukiskan betapa kebersamaan itu harus selalu ada dalam tiap tawa ataupun luka. Sementara bait kedua yang menjadi kunci dari semua gembok kata yang ada berbunyi tapi karena laut menggemuruh dalam rakaat-rakaat kami yang melukiskan penghambaan yang utuh kepada Tuhan.
Puisi Mas Jamal D Rahman berjudul Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami bisa kita sebut tariqoh spritual dalam puisi.
Terlepas puisi ini sudah berhasil atau tidak dalam meyampaikan risalah hati maka biarkanlah zaman yang akan membahasnya. Mari kita beri aplus kepada Mas Jamal D Rahman dengan puisinya berjudul Karena Laut Menggemuruh dalam Rakaat Kami.
Al-Amien, 28 April 2010
Jumat, 16 April 2010
CARA PENYAIR MENYISIPKAN RUH DALAM KARYA
Sebuah Ulasan Puisi
Kali ini, kita akan membahas tentang puisi berjudul dunia oh dunia buah pena Syahrul affandi bin jalaluddin rozali. Berikut ini saya kutip lengkap puisinya, selamat menikmati!
puisi "dunia oh dunia"
Ini dunia yang kau miliki
Sebentuk bulat tak lonjong, tak petak
Ini dunia yang kau pijak
Bertanah dan berair
Diselimuti pepohonan tapi kau tebang
Dipenuhi lautan tapi kau cemar
Diselubung udara tapi kau kotorkan
Dihiasi manusia tapi kau tipu
Ini dunia yang kau puja
Berbentuk bola yang kau tendang
Tak ada benderang di hati luka
Seakan hempas terkoyak pungkang
Hingga tak kau perdulikan wajah-wajah mayat jelata
Ini dunia yang kau seru
Mengisah kan beban di pundak nya
Menuduhkan kau yang bersalah
Menangis kan hujanan air mata
Ini dunia yang kau agungkan
Aku juga ikut menghancurkan nya
Meski kaki tak sanggup lagi berpijak
Dumai, 16 april 2010
Syahrul affandi bin jalaluddin rozali
Puisi yang ditulis penyair Syahrul affandi bin jalaluddin rozali ini lebih menitik beratkan pada sisi makna atau sisi pesan. Penggunaan metafora pada tiap baitnya, nyaris tidak ada. Hal semacam ini sangat wajar karena memang penyair yang memiliki gaya seperti ini, tak terlalu menonjolkan keindahan bahasa.
Marilah kita bahas dari bait perbait yang ada dalam puisi ini, agar kita lebih akrab dengan kehadiran puisi ini.
Pada bait pertama, yang hanya terdiri dari empat baris lebih bersifat perkenalan. Dunia diperkenalkan dengan bahasa yang lugas,bertanah dan berair. Perkenalan di sampaikan lugas dengan tujuan agar pembaca lebih memahami maksud dan tujuan puisi ini ditulis.
Pada bait kedua, yang hanya terdiri dari empat baris, lebih pada teguran semata. Lebih menekankan gugatan kepada kamu lirik, yang dianggap kurang bersahabat dengan alam. Manusia yang dinilai terlalu tamak. Tanda tamaknya manusia ditulis dan dicontohkan dengan gamblang yakni mudah menebang pohon sembarangan. Lebih sering, melakukan pencemaran di lautan demi memenuhi kepuasan duniawi. Lebih suka, membuat polusi sehingga pernafasan pun terganggu. Penyair pun menegaskan bahwa watak dasarnya adalah suka menipu.
Dengan demikian bait kedua ini sarat dengan renungan yang bersifat nyata dan sangat akrab dengan kehidupan kita.
Pada bait ketiga, penyair lebih tegas melukiskan manusia yang tamak pada dunia. Penyair menggugat manusia yang tamak dengan begitu lugasnya. Gugatan itu terasa sangat tegas. Gugatan itu bisa langsung dirasakan karena memang tidak dihiasi dengan metafor. Dunia yang umumnya dipuja manusia menurut penulis tak lebih dari sekedar bola yang bisa ditendang akibatnya, tak ada kepedulian kepada rakyat jelata khususnya yang telah meninggal.
Pada bait keempat, penyair hanya berbagi kisah spritual dengan kamu lirik (penyeru dunia) dengan menyatakan Ini dunia yang kau seru/Mengisah kan beban di pundak nya/Menuduhkan kau yang bersalah/Menangis kan hujanan air mata. Dengan demikian menyeru dunia hanya akan menambah beban saja. Beban bagi dirinya maupun beban bagi dunia yang diserunya.
Pada bait kelima dengan tegas penyair menyatkan sikapnya kepada kamu lirik (pemuja dunia), Ini dunia yang kau agungkan/Aku juga ikut menghancurkan nya/Meski kaki tak sanggup lagi berpijak. Sebuah sikap tegas telah disampaikan penyairnya. Saya pikir ini adalah sikap yang sangat berani, sengaja ditempuh penyair untuk menyadarkan kamu lirik dari kebiasaan memuja dunia. Bahwa penyair ikut menghancurkan dunia yang sering dipuja kamu lirik meski terkadang penyair tak mampu lagi beranjak. Dengan demikian puisi ini, bisa dibilang berhasil dalam penyampaian pesan saja kendati keindahan bahasa metaforisnya kurang mendapatkan tempat. Inilah salah satu genre yang coba diusung oleh penyairnya, mendobrak kebiasaan penyair lain yang terlalu mengagungkan metafor dalam karya-karya meraka. Bagi saya pribadi hal semacam ini adalah sah-sah saja karena setiap penyair meliki ruh tersendiri pada tiap karya-karya yang telah ditulis.
17 April 2010
Kali ini, kita akan membahas tentang puisi berjudul dunia oh dunia buah pena Syahrul affandi bin jalaluddin rozali. Berikut ini saya kutip lengkap puisinya, selamat menikmati!
puisi "dunia oh dunia"
Ini dunia yang kau miliki
Sebentuk bulat tak lonjong, tak petak
Ini dunia yang kau pijak
Bertanah dan berair
Diselimuti pepohonan tapi kau tebang
Dipenuhi lautan tapi kau cemar
Diselubung udara tapi kau kotorkan
Dihiasi manusia tapi kau tipu
Ini dunia yang kau puja
Berbentuk bola yang kau tendang
Tak ada benderang di hati luka
Seakan hempas terkoyak pungkang
Hingga tak kau perdulikan wajah-wajah mayat jelata
Ini dunia yang kau seru
Mengisah kan beban di pundak nya
Menuduhkan kau yang bersalah
Menangis kan hujanan air mata
Ini dunia yang kau agungkan
Aku juga ikut menghancurkan nya
Meski kaki tak sanggup lagi berpijak
Dumai, 16 april 2010
Syahrul affandi bin jalaluddin rozali
Puisi yang ditulis penyair Syahrul affandi bin jalaluddin rozali ini lebih menitik beratkan pada sisi makna atau sisi pesan. Penggunaan metafora pada tiap baitnya, nyaris tidak ada. Hal semacam ini sangat wajar karena memang penyair yang memiliki gaya seperti ini, tak terlalu menonjolkan keindahan bahasa.
Marilah kita bahas dari bait perbait yang ada dalam puisi ini, agar kita lebih akrab dengan kehadiran puisi ini.
Pada bait pertama, yang hanya terdiri dari empat baris lebih bersifat perkenalan. Dunia diperkenalkan dengan bahasa yang lugas,bertanah dan berair. Perkenalan di sampaikan lugas dengan tujuan agar pembaca lebih memahami maksud dan tujuan puisi ini ditulis.
Pada bait kedua, yang hanya terdiri dari empat baris, lebih pada teguran semata. Lebih menekankan gugatan kepada kamu lirik, yang dianggap kurang bersahabat dengan alam. Manusia yang dinilai terlalu tamak. Tanda tamaknya manusia ditulis dan dicontohkan dengan gamblang yakni mudah menebang pohon sembarangan. Lebih sering, melakukan pencemaran di lautan demi memenuhi kepuasan duniawi. Lebih suka, membuat polusi sehingga pernafasan pun terganggu. Penyair pun menegaskan bahwa watak dasarnya adalah suka menipu.
Dengan demikian bait kedua ini sarat dengan renungan yang bersifat nyata dan sangat akrab dengan kehidupan kita.
Pada bait ketiga, penyair lebih tegas melukiskan manusia yang tamak pada dunia. Penyair menggugat manusia yang tamak dengan begitu lugasnya. Gugatan itu terasa sangat tegas. Gugatan itu bisa langsung dirasakan karena memang tidak dihiasi dengan metafor. Dunia yang umumnya dipuja manusia menurut penulis tak lebih dari sekedar bola yang bisa ditendang akibatnya, tak ada kepedulian kepada rakyat jelata khususnya yang telah meninggal.
Pada bait keempat, penyair hanya berbagi kisah spritual dengan kamu lirik (penyeru dunia) dengan menyatakan Ini dunia yang kau seru/Mengisah kan beban di pundak nya/Menuduhkan kau yang bersalah/Menangis kan hujanan air mata. Dengan demikian menyeru dunia hanya akan menambah beban saja. Beban bagi dirinya maupun beban bagi dunia yang diserunya.
Pada bait kelima dengan tegas penyair menyatkan sikapnya kepada kamu lirik (pemuja dunia), Ini dunia yang kau agungkan/Aku juga ikut menghancurkan nya/Meski kaki tak sanggup lagi berpijak. Sebuah sikap tegas telah disampaikan penyairnya. Saya pikir ini adalah sikap yang sangat berani, sengaja ditempuh penyair untuk menyadarkan kamu lirik dari kebiasaan memuja dunia. Bahwa penyair ikut menghancurkan dunia yang sering dipuja kamu lirik meski terkadang penyair tak mampu lagi beranjak. Dengan demikian puisi ini, bisa dibilang berhasil dalam penyampaian pesan saja kendati keindahan bahasa metaforisnya kurang mendapatkan tempat. Inilah salah satu genre yang coba diusung oleh penyairnya, mendobrak kebiasaan penyair lain yang terlalu mengagungkan metafor dalam karya-karya meraka. Bagi saya pribadi hal semacam ini adalah sah-sah saja karena setiap penyair meliki ruh tersendiri pada tiap karya-karya yang telah ditulis.
17 April 2010
Rabu, 14 April 2010
ADA SURGA DALAM PERNIKAHAN
Berikut ini perkenankan saya mengulas puisi saya, yang saya tulis mengenai pernikahan adik sepupu tercinta saya. Puisi berjudul pernikahan, tercipta saat saya mengadakan perjalanan ke sidogiri dalam akad nikah adik sepupu saya (KH. Ach. Hamami Bakri), dia adalah adik sekaligus sahabat karib saya, mulai dari kecil, nyantri di al-amien hingga sekarang.
Dalam puisi ini, saya hanya ingin mengulas pergulatan batin, yang saya alami saat saya mengantarnya ke sidogiri untuk melaksanakan akad nikah pada hari kamis 18 Maret 2010.
Berikut saya tulis lengkap puisinya, selamat membaca dan perkenankan saya mengulasnya.
PERNIKAHAN
Teruntuk adikku KH. Hamami Bakri Munawwir
Halaman hidupmu penuh doa
Saat kau mewisuda perempuan dunia menjadi bidadari surga
Lantas kau dan permata hatimu serupa tangkai dan bunga
Saling memberi sempurna
Sidogiri, 18 Maret 2010
Puisi yang hanya terdiri dari satu bait, dalam satu bait ada empat baris bisa kita saksikan, betapa agung peristiwa pernikahan.
Hanya ada doa, hanya ada wisuda perempuan dunia menjadi bidadari surga, yang dilukiskan keadaan sahabat dan permata hati dalam puisi serupa tangkai dan bunga/saling memberi sempurna.
Tentu sebian dari kita akan bertanya, betulkah pengandaian ini, insya Allah betul adanya. Meski saya sendiri belum mengalaminya dalam artian mengalami pernikahan namun saya telah menyaksikan betapa agung pernikahan ini.
Dan untuk mengaitkan antara keciantaan saya pada puisi dan mengabadikan jejak pernikahan adik sepupu saya maka pada hari pernikahannya (walimahnya) saya abadikan dalam puisi berjudul
PUISI DAN HARI PERNIKAHAN
Teruntuk adik sepupuku KH. Ach. Hamami Bakri
Ada puisi
Ada sepi menjelma riang hati
Ada puisi
Ada rindu menyanyi
Selepas pergi
Datang kembali
Ada puisi
Ada bintang prestasi
Di ujung pertemuan
Yang telah kau agendakan
Ada puisi
Di hari pernikahanmu
Semua mata bercerita penuh cumbu
Seluruh bibir mengabadikan jejakmu dalam bait ridla Ilahi
Blega, 28 Maret 2010
Dalam puisi ini saya mencoba mengaitkan antara kecintaan saya pada puisi dan keinginan saya mengabadikan jejak yang penuh kesakralan dari adik sepupu saya KH. Ach. Hamami Bakri yang intinya dari puisi ini, hanya ingin mengabarkan pada diri saya pribadi secara khusus dan bagi pembaca secara umum bahwa pernikahan itu adalah jejak yang abadi dalam ridla Ilahi. Hubungan yang sangat direstui ilahi.
Demikian ulasan singkat atau sejarah lahirnya dua puisi saya yang membahas tentang pernikahan. Selamat membaca, semoga bermanfaat. Amien.
Al-Amien, 30 Maret 2010
Dalam puisi ini, saya hanya ingin mengulas pergulatan batin, yang saya alami saat saya mengantarnya ke sidogiri untuk melaksanakan akad nikah pada hari kamis 18 Maret 2010.
Berikut saya tulis lengkap puisinya, selamat membaca dan perkenankan saya mengulasnya.
PERNIKAHAN
Teruntuk adikku KH. Hamami Bakri Munawwir
Halaman hidupmu penuh doa
Saat kau mewisuda perempuan dunia menjadi bidadari surga
Lantas kau dan permata hatimu serupa tangkai dan bunga
Saling memberi sempurna
Sidogiri, 18 Maret 2010
Puisi yang hanya terdiri dari satu bait, dalam satu bait ada empat baris bisa kita saksikan, betapa agung peristiwa pernikahan.
Hanya ada doa, hanya ada wisuda perempuan dunia menjadi bidadari surga, yang dilukiskan keadaan sahabat dan permata hati dalam puisi serupa tangkai dan bunga/saling memberi sempurna.
Tentu sebian dari kita akan bertanya, betulkah pengandaian ini, insya Allah betul adanya. Meski saya sendiri belum mengalaminya dalam artian mengalami pernikahan namun saya telah menyaksikan betapa agung pernikahan ini.
Dan untuk mengaitkan antara keciantaan saya pada puisi dan mengabadikan jejak pernikahan adik sepupu saya maka pada hari pernikahannya (walimahnya) saya abadikan dalam puisi berjudul
PUISI DAN HARI PERNIKAHAN
Teruntuk adik sepupuku KH. Ach. Hamami Bakri
Ada puisi
Ada sepi menjelma riang hati
Ada puisi
Ada rindu menyanyi
Selepas pergi
Datang kembali
Ada puisi
Ada bintang prestasi
Di ujung pertemuan
Yang telah kau agendakan
Ada puisi
Di hari pernikahanmu
Semua mata bercerita penuh cumbu
Seluruh bibir mengabadikan jejakmu dalam bait ridla Ilahi
Blega, 28 Maret 2010
Dalam puisi ini saya mencoba mengaitkan antara kecintaan saya pada puisi dan keinginan saya mengabadikan jejak yang penuh kesakralan dari adik sepupu saya KH. Ach. Hamami Bakri yang intinya dari puisi ini, hanya ingin mengabarkan pada diri saya pribadi secara khusus dan bagi pembaca secara umum bahwa pernikahan itu adalah jejak yang abadi dalam ridla Ilahi. Hubungan yang sangat direstui ilahi.
Demikian ulasan singkat atau sejarah lahirnya dua puisi saya yang membahas tentang pernikahan. Selamat membaca, semoga bermanfaat. Amien.
Al-Amien, 30 Maret 2010
MENELAAH HIDUP LEWAT PUISI
Sebuah Ulasan Puisi Karya penyair Ida Nursanti Basuni
Adalah suatu kesempatan yang besar, saat saya diberi izin mengulas karya penyair Ida Nursanti Basuni dalam 3 puisinya.
TAQWA
Menengadahlah ke langit, jika kau gundah
dari arah yang tak terlihat, akan datang seribu pahala.
Kau takut dengan beras yang tinggal segantang
sedang langit mengucurkan hujan pada ikan-ikan
dan burung-burung di samudra
Jika menyangka, datangkan seribu pahala dengan kekuatanmu
bisakah camar makan sedangkan elang menyambar?
Selama hidup, kau takkan tahu
jika malam tiba kau akan nyenyak sampai pagi
Aku, kau, dan anakmu
mungkin hidup seribu hari
seribu bulan
namun tetap saja kalian menuju mati
(Singkawang, 2010)
Dalam puisi TAQWA sang penyair mengajak kita berkenalan dan memaknai hidup hingga akhirnya kita menemukan terminal kehidupan.
Dengan sangat gamblang penyair mengabarkan pada kita bahwa betapa pun kita sudah maksimal dalam berusaha, kita selalu diajak untuk selalu ingat kepada kematian. Karena kematian adalah tamu yang pasti datang. Namun dalam bait terakhir penyair entah secara sadar atau pun sadar tidak melibatkan dirinya dalam kematian padahal pada 4 baris terakhir secara tegas penyair melibatkan diri Aku, kau, dan anakmu /mungkin hidup seribu hari/ seribu bulan/ namun tetap saja kalian menuju mati. Inilah yang saya maksud sangat ganjal seolah-olah penyair disini bertugas menjadi hakim andai kata kalian diganti dengan “kita” maka kearifan penyair akan tercermin dengan gamblang.
DI PERSIMPANGAN SENJA
Ketika senja di persimpangan senyap,
neon kuning menghapus jejak tawa
dengan adzan dari masjid tua.
Tak lagi kuingat
kapan kota ini beranjak tua
kapan ia beranjak remaja.
Mungkin saja pada sebuah persimpangan senja
Kepak walet pulang ke rumah
pada riuh jejak turis di hotel seberang Kota Indah.
Senyap itu lalu riuh
lampu sen kiri berkelip dalam senja yang kuning
Kota tua di persimpangan senja
kini bagai perawan menor di seberang warung kopi.
Seperti negeri Huan Zu Keke
lampion memagar langit jingga.
Dipersimpangan senja waktu seakan jeda,
terkenang akan jejak tawa adik.
Persimpangan senja kota tasbih
bilur angin runcing menempias waktu bertemu dengan-Mu.
Kota Tasbih, Desember 2009
Dalam puisi kedua berjudul DI PERSIMPANGAN SENJA penulis dengan tegas memaknai senja
Dipersimpangan senja waktu seakan jeda/terkenang akan jejak tawa adik/Persimpangan senja kota tasbih/bilur angin runcing menempias waktu bertemu dengan-Mu.
Betapa senja adalah waktu yang sangat indah jika digunakan untuk bertemu Tuhan. Selalu mengingat tentang kemaha sempurnaan Tuhan.
Secara keseluruhan puisi DI PERSIMPANGAN SENJA adalah isyarat bagi kita untuk selalu merenung tentang segala peristiwa.
MITOLOGI TEBU
Tubuh semampai menebas angin
rapuh lengan membelai cahaya
bersama gesek erang
Bocah bermata lengkung meriuh di ujung sungai
merebas ilalang, mematah reranting
Lading berkilat menantang terik
tebas, lengas, lunglai
“Sesaplah dari ujungnya, kemudian pangkal lengannya.
Jangan tinggalkan ujung bila hendak kepucuk.”
Sesap hingga ampas. Jadam barulah madu.
Tuan, mengajarimu begitu.
Singkawang, pertengahan terik 2010
Dalam puisi MITOLOGI TEBU kita diajak untuk selalu satu rasa, satu tujuan dalam segala sesuatu. Kita harus mengingat asal agar tidak kehilangan jatidiri di kala sukses. Membaca puisi MITOLOGI TEBU kita akan terus diajak mengenali diri, mengenali asal. Kita diajak untuk lebih arif dalam memahami hidup.
Dengan demikian ketiga puisi Penyair Ida Nursanti Basuni mengajak kita untuk selalu hidup tanpa meninggalkan ciri khas kehidupan kita. Kita diajak hidup namun di sisi lain, kita diajak merenungi mati. Inilah usalah singkat saya terhadap tiga puisi penyair Ida Nursanti Basuni semoga ulasan singkat ini bisa menjadi cermin bagi diri saya pribadi dan bagi pembaca budiman agar lebih arif dalam memandang hidup. Akhirnya kepada penyair saya hanya bisa berkata,”Selamat berkarya!”
Al-Amien, 15 Maret 2010
Adalah suatu kesempatan yang besar, saat saya diberi izin mengulas karya penyair Ida Nursanti Basuni dalam 3 puisinya.
TAQWA
Menengadahlah ke langit, jika kau gundah
dari arah yang tak terlihat, akan datang seribu pahala.
Kau takut dengan beras yang tinggal segantang
sedang langit mengucurkan hujan pada ikan-ikan
dan burung-burung di samudra
Jika menyangka, datangkan seribu pahala dengan kekuatanmu
bisakah camar makan sedangkan elang menyambar?
Selama hidup, kau takkan tahu
jika malam tiba kau akan nyenyak sampai pagi
Aku, kau, dan anakmu
mungkin hidup seribu hari
seribu bulan
namun tetap saja kalian menuju mati
(Singkawang, 2010)
Dalam puisi TAQWA sang penyair mengajak kita berkenalan dan memaknai hidup hingga akhirnya kita menemukan terminal kehidupan.
Dengan sangat gamblang penyair mengabarkan pada kita bahwa betapa pun kita sudah maksimal dalam berusaha, kita selalu diajak untuk selalu ingat kepada kematian. Karena kematian adalah tamu yang pasti datang. Namun dalam bait terakhir penyair entah secara sadar atau pun sadar tidak melibatkan dirinya dalam kematian padahal pada 4 baris terakhir secara tegas penyair melibatkan diri Aku, kau, dan anakmu /mungkin hidup seribu hari/ seribu bulan/ namun tetap saja kalian menuju mati. Inilah yang saya maksud sangat ganjal seolah-olah penyair disini bertugas menjadi hakim andai kata kalian diganti dengan “kita” maka kearifan penyair akan tercermin dengan gamblang.
DI PERSIMPANGAN SENJA
Ketika senja di persimpangan senyap,
neon kuning menghapus jejak tawa
dengan adzan dari masjid tua.
Tak lagi kuingat
kapan kota ini beranjak tua
kapan ia beranjak remaja.
Mungkin saja pada sebuah persimpangan senja
Kepak walet pulang ke rumah
pada riuh jejak turis di hotel seberang Kota Indah.
Senyap itu lalu riuh
lampu sen kiri berkelip dalam senja yang kuning
Kota tua di persimpangan senja
kini bagai perawan menor di seberang warung kopi.
Seperti negeri Huan Zu Keke
lampion memagar langit jingga.
Dipersimpangan senja waktu seakan jeda,
terkenang akan jejak tawa adik.
Persimpangan senja kota tasbih
bilur angin runcing menempias waktu bertemu dengan-Mu.
Kota Tasbih, Desember 2009
Dalam puisi kedua berjudul DI PERSIMPANGAN SENJA penulis dengan tegas memaknai senja
Dipersimpangan senja waktu seakan jeda/terkenang akan jejak tawa adik/Persimpangan senja kota tasbih/bilur angin runcing menempias waktu bertemu dengan-Mu.
Betapa senja adalah waktu yang sangat indah jika digunakan untuk bertemu Tuhan. Selalu mengingat tentang kemaha sempurnaan Tuhan.
Secara keseluruhan puisi DI PERSIMPANGAN SENJA adalah isyarat bagi kita untuk selalu merenung tentang segala peristiwa.
MITOLOGI TEBU
Tubuh semampai menebas angin
rapuh lengan membelai cahaya
bersama gesek erang
Bocah bermata lengkung meriuh di ujung sungai
merebas ilalang, mematah reranting
Lading berkilat menantang terik
tebas, lengas, lunglai
“Sesaplah dari ujungnya, kemudian pangkal lengannya.
Jangan tinggalkan ujung bila hendak kepucuk.”
Sesap hingga ampas. Jadam barulah madu.
Tuan, mengajarimu begitu.
Singkawang, pertengahan terik 2010
Dalam puisi MITOLOGI TEBU kita diajak untuk selalu satu rasa, satu tujuan dalam segala sesuatu. Kita harus mengingat asal agar tidak kehilangan jatidiri di kala sukses. Membaca puisi MITOLOGI TEBU kita akan terus diajak mengenali diri, mengenali asal. Kita diajak untuk lebih arif dalam memahami hidup.
Dengan demikian ketiga puisi Penyair Ida Nursanti Basuni mengajak kita untuk selalu hidup tanpa meninggalkan ciri khas kehidupan kita. Kita diajak hidup namun di sisi lain, kita diajak merenungi mati. Inilah usalah singkat saya terhadap tiga puisi penyair Ida Nursanti Basuni semoga ulasan singkat ini bisa menjadi cermin bagi diri saya pribadi dan bagi pembaca budiman agar lebih arif dalam memandang hidup. Akhirnya kepada penyair saya hanya bisa berkata,”Selamat berkarya!”
Al-Amien, 15 Maret 2010
MENGENAL ARTI SAHABAT ATAU KEKASIH LEWAT PUISI
sebuah Ulasan Puisi
Berikut ini perkenankan saya mengulas puisi sahabat kita Fira Rachmat yang lagi ulang tahun hari ini. Saya jadikan ulasan ini sebagai kado spesial untuknya di hari yang penuh sejarah. Marilah kita perhatikan puisi di bawah ini berjudul Beri Sedikit Waktu buah pena Fira Rachmat.
Beri Sedikit Waktu
Dingin menusuk hati
Malam berlalu lagi,tanpamu
Gamang,
terbelenggu rindu di kalbu
Cukup sudah kucumbu senandung lara
Membelah kata patah patah terlunta lunta
Benang umur luntur,kelabu hati
Tak bisakah beri sedikit waktu untukku?
Walau sejenak memberiku selimut hangat
karena hadirmu tepikan sepiku
By: Fira R Pondok Palem,Feb 2010
Walau puisi ini hanya terdiri satu bait namun pesan yang ada di dalam puisi ini sarat makna.
Penyair dengan tegas dan penuh iba menyatakan keadaan dirinya pada sahabat atau pun kekasih yang menjadi bahasan dalam puisi ini. Sesungguhnya malam yang berlalu tanpa kehadiran tokoh dalam puisi ini sangat gamang. Sangat menyedihkan dan tak memberikan ketenangan.
Dengan lembut penyair melukiskan keadaan dirinya, terbelenggu rindu di kalbu/cukup sudah kucumbu lara. Adalah lukisan hati yang sangat tegas penuh iba yang disampaikan oleh seorang sahabat atau pun kekasih yang sedang dicumbu sepi. Keperihan mulai terasa, dan menuntut untuk segera dituntaskan, seperti yang tertuang, Membelah kata patah-patah terlunta-lunta/Benang umur luntur, kelabu hati/Tak bisakah beri sedikit waktu untukku. Rasa iba yang penuh harap mulai mendekati puncak yang harus segera ditanggapi, akhirnya penyair pun menutup kegelisahan hatinya dan betapa berartinya sahabat atau kekasih dalam puisinya dengan, Walau sejenak memberiku selimut hangat/karena hadirmu tepikan sepi.
Al-Amien, 22 Maret 2010
Berikut ini perkenankan saya mengulas puisi sahabat kita Fira Rachmat yang lagi ulang tahun hari ini. Saya jadikan ulasan ini sebagai kado spesial untuknya di hari yang penuh sejarah. Marilah kita perhatikan puisi di bawah ini berjudul Beri Sedikit Waktu buah pena Fira Rachmat.
Beri Sedikit Waktu
Dingin menusuk hati
Malam berlalu lagi,tanpamu
Gamang,
terbelenggu rindu di kalbu
Cukup sudah kucumbu senandung lara
Membelah kata patah patah terlunta lunta
Benang umur luntur,kelabu hati
Tak bisakah beri sedikit waktu untukku?
Walau sejenak memberiku selimut hangat
karena hadirmu tepikan sepiku
By: Fira R Pondok Palem,Feb 2010
Walau puisi ini hanya terdiri satu bait namun pesan yang ada di dalam puisi ini sarat makna.
Penyair dengan tegas dan penuh iba menyatakan keadaan dirinya pada sahabat atau pun kekasih yang menjadi bahasan dalam puisi ini. Sesungguhnya malam yang berlalu tanpa kehadiran tokoh dalam puisi ini sangat gamang. Sangat menyedihkan dan tak memberikan ketenangan.
Dengan lembut penyair melukiskan keadaan dirinya, terbelenggu rindu di kalbu/cukup sudah kucumbu lara. Adalah lukisan hati yang sangat tegas penuh iba yang disampaikan oleh seorang sahabat atau pun kekasih yang sedang dicumbu sepi. Keperihan mulai terasa, dan menuntut untuk segera dituntaskan, seperti yang tertuang, Membelah kata patah-patah terlunta-lunta/Benang umur luntur, kelabu hati/Tak bisakah beri sedikit waktu untukku. Rasa iba yang penuh harap mulai mendekati puncak yang harus segera ditanggapi, akhirnya penyair pun menutup kegelisahan hatinya dan betapa berartinya sahabat atau kekasih dalam puisinya dengan, Walau sejenak memberiku selimut hangat/karena hadirmu tepikan sepi.
Al-Amien, 22 Maret 2010
Selasa, 13 April 2010
PERJALAN SPRITUAL PENYAIR DALAM PUISI
Sebuah Ulasan Puisi
RISALAH BURUNG adalah puisi buah pena Yazid Musyafa yang melukiskan tentang Ketulusan seorang hamba kepada TuhanNya.
Puisi RISALAH BURUNG terdiri dari dari lima bait dan marilah kita renungkan isinya, lalu perkenankan saya mengulasnya.
Risalah Burung
Terkembang sayap-sayap melukis cakrawala
Melayang anggun: angkuh di ujung buana
Kurasakan kemerdekaan memeluk jasadku
Sebagai sang burung
Maka kujelang kebebasanku
Melesat, kutuju kemilau cahaya mentari
Sang bayu gemulai menjamah halus bulu-buluku
Membilurkan sejuta sensasi: rasa pada hati
Bias-bias mentari menjelma warna- warni pelangi
Butakan mata pada keindahan ini
Hingga rerintik api-api mentari memberangus kulit
Menjatuhkanku pada sayap-sayap patah
Lalu terkapar, di antara reranting kering
..............................
Maka biarlah Kau kuncupkan kepak sayap-sayapku
Atau Kau sangkarkan aku, lalu Kau tenggerkan
Di ketinggian tiang tiada ujung atau di dahan hati-Mu
Tinggal diam diutuhkan cinta-Mu
Pada yang lebih kekal dari kebebasan fana
Aku rela, sebagai burung....
Pada bait pertama yang hanya terdiri dari empat baris, penyair melukiskan dirinya sebagai burung yang terbang bebas. Kadang melayang anggun kadang penuh keangkuhan.
Pada bait kedua, penyair menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang kadang serba kekurangan, penuh ketidak sempurnaan di antara keindahan yang ada. Di antara panorama yang disaksikannya.
Pada bait ketiga, penyair dengan penuh kearifan mengajak kita hening. Tak ada kata. Tak ada suara. Meski ada harapan hanya diselipkan dalam titik-titik yang penuh dengan renungan. Amat mempesona teka-teki ini, dimana setiap pembacanya diajak untuk mengisi kekosongan yang ada, dengan panorama hatinya.
Pada bait keempat, penyair mulai tegas menyatakan keadaan dirinya, Dihadapan Rabbnya. Dihadapan yang dianggap agung dan berkuasa oleh penyair. Penyair dengan arif memasrahkan total keadaannya.
Pada bait kelima, totalitas spritual pun mulai dilukiskan dengan begitu pesona, dengan begitu menggoda. Dzat yang dituju penyair pada puisi ini adalah Dzat yang kekal. Dzat yang tidak pernah mengenal kata fana dan tidak bisa dikaitkan dengan kefanaan. Sebagai hamba yang arif dan bijaksana yang penuh ketawadlu'an dan ketaatan akhirnya penyairpun berkata,"Aku rela/sebagai burung...
Dengan demikian puisi risalah burung adalah perjalanan spritual penyair dalam menjalani hidup hingga dengan tulusnya mengandaikan dirinya sebagai burung yang rela berada dalam sangkar (pelukan kasih Tuhan).
Demikian ulasan yang bisa saya buat, semoga bermanfaat bagi diri saya yang dhaif ini secara khusus dan bagi para pembaca secara umum.
Al-Amien, 31 Maret 2010
Komentar
@Lina Kelana@ esai menarik n puisi yg hebat,
salam sukses shbt shbtk... :)
@Naimisa Yusof@ Bagus sekali lontaran idea nya. Syabas!
Imron Tohari Telisik makna yang begitu bagus dalam menjabarkan bahasa-bahasa simbol yang ada pada puisi bernuansa transemdental ini.
karya yang bagus dan telisik yang cukup memadai untuk kita membaca dari apa yang disiratkan puisi sahabatku Yazid Musyafa.
salam untuk kalian berdua.... Lihat Selengkapnya
@Reni Teratai Air@ penjabaran yang sangat eksotik. eksotik krn mampu meriakkan gema puisi itu sendiri..... hingga terasa geliat keindahan dan sentuhannya....
Makasih mau berbagi
@A Pan Di@ menarik
hati yang hamba
tak menghina
malah menyinar cahaya
@Jurnal Sastratuhan Hudan@ sang penyair membuat personifikasi, sang pengamat (yang penyair juga) mencatatnya dengan bening. burung memang ini begitu imajinatif, dan asosiatif. inilah bahasa yang dipanggil oleh wacana keimanan dalam diri sang penyair. burung iman, burung yang meminta merenungkan dan untuk itu ia bersedia jadi simbol agar manusia mau merenungkannya. ih indahnya.
31 Maret jam 8:57 ·
@Yazid Musyafa@ terima kasih sekali, mas ghufron. :)
saya tak bisa berkata apa2. :)
salam hormatku utukmu...
@Moh. Ghufron Cholid@ ini hanya tulisan dari anak madura yang diperkenalkan dunia tulis menulis semenjak mondok di pesantren al-amien prenduan sumenep madura
RISALAH BURUNG adalah puisi buah pena Yazid Musyafa yang melukiskan tentang Ketulusan seorang hamba kepada TuhanNya.
Puisi RISALAH BURUNG terdiri dari dari lima bait dan marilah kita renungkan isinya, lalu perkenankan saya mengulasnya.
Risalah Burung
Terkembang sayap-sayap melukis cakrawala
Melayang anggun: angkuh di ujung buana
Kurasakan kemerdekaan memeluk jasadku
Sebagai sang burung
Maka kujelang kebebasanku
Melesat, kutuju kemilau cahaya mentari
Sang bayu gemulai menjamah halus bulu-buluku
Membilurkan sejuta sensasi: rasa pada hati
Bias-bias mentari menjelma warna- warni pelangi
Butakan mata pada keindahan ini
Hingga rerintik api-api mentari memberangus kulit
Menjatuhkanku pada sayap-sayap patah
Lalu terkapar, di antara reranting kering
..............................
Maka biarlah Kau kuncupkan kepak sayap-sayapku
Atau Kau sangkarkan aku, lalu Kau tenggerkan
Di ketinggian tiang tiada ujung atau di dahan hati-Mu
Tinggal diam diutuhkan cinta-Mu
Pada yang lebih kekal dari kebebasan fana
Aku rela, sebagai burung....
Pada bait pertama yang hanya terdiri dari empat baris, penyair melukiskan dirinya sebagai burung yang terbang bebas. Kadang melayang anggun kadang penuh keangkuhan.
Pada bait kedua, penyair menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang kadang serba kekurangan, penuh ketidak sempurnaan di antara keindahan yang ada. Di antara panorama yang disaksikannya.
Pada bait ketiga, penyair dengan penuh kearifan mengajak kita hening. Tak ada kata. Tak ada suara. Meski ada harapan hanya diselipkan dalam titik-titik yang penuh dengan renungan. Amat mempesona teka-teki ini, dimana setiap pembacanya diajak untuk mengisi kekosongan yang ada, dengan panorama hatinya.
Pada bait keempat, penyair mulai tegas menyatakan keadaan dirinya, Dihadapan Rabbnya. Dihadapan yang dianggap agung dan berkuasa oleh penyair. Penyair dengan arif memasrahkan total keadaannya.
Pada bait kelima, totalitas spritual pun mulai dilukiskan dengan begitu pesona, dengan begitu menggoda. Dzat yang dituju penyair pada puisi ini adalah Dzat yang kekal. Dzat yang tidak pernah mengenal kata fana dan tidak bisa dikaitkan dengan kefanaan. Sebagai hamba yang arif dan bijaksana yang penuh ketawadlu'an dan ketaatan akhirnya penyairpun berkata,"Aku rela/sebagai burung...
Dengan demikian puisi risalah burung adalah perjalanan spritual penyair dalam menjalani hidup hingga dengan tulusnya mengandaikan dirinya sebagai burung yang rela berada dalam sangkar (pelukan kasih Tuhan).
Demikian ulasan yang bisa saya buat, semoga bermanfaat bagi diri saya yang dhaif ini secara khusus dan bagi para pembaca secara umum.
Al-Amien, 31 Maret 2010
Komentar
@Lina Kelana@ esai menarik n puisi yg hebat,
salam sukses shbt shbtk... :)
@Naimisa Yusof@ Bagus sekali lontaran idea nya. Syabas!
Imron Tohari Telisik makna yang begitu bagus dalam menjabarkan bahasa-bahasa simbol yang ada pada puisi bernuansa transemdental ini.
karya yang bagus dan telisik yang cukup memadai untuk kita membaca dari apa yang disiratkan puisi sahabatku Yazid Musyafa.
salam untuk kalian berdua.... Lihat Selengkapnya
@Reni Teratai Air@ penjabaran yang sangat eksotik. eksotik krn mampu meriakkan gema puisi itu sendiri..... hingga terasa geliat keindahan dan sentuhannya....
Makasih mau berbagi
@A Pan Di@ menarik
hati yang hamba
tak menghina
malah menyinar cahaya
@Jurnal Sastratuhan Hudan@ sang penyair membuat personifikasi, sang pengamat (yang penyair juga) mencatatnya dengan bening. burung memang ini begitu imajinatif, dan asosiatif. inilah bahasa yang dipanggil oleh wacana keimanan dalam diri sang penyair. burung iman, burung yang meminta merenungkan dan untuk itu ia bersedia jadi simbol agar manusia mau merenungkannya. ih indahnya.
31 Maret jam 8:57 ·
@Yazid Musyafa@ terima kasih sekali, mas ghufron. :)
saya tak bisa berkata apa2. :)
salam hormatku utukmu...
@Moh. Ghufron Cholid@ ini hanya tulisan dari anak madura yang diperkenalkan dunia tulis menulis semenjak mondok di pesantren al-amien prenduan sumenep madura
MENTADABBURI HIDUP LEWAT PUISI
Sebuah Ulasan Puisi
Berikut ini perkenankan saya mengulas tiga puisi karya sahabat penyair FB Reni Teratai Air. Berikut ini saya tulis secara utuh agar semua sahabat FB bisa menikmati puisi-puisi sang penyair.
Gelungku
:love
Melingkari asamu
Tak kujumpai riakku
Lamat-lamat di antara sedu
Saat menyebutmu
Antara hela dan tarikan
Adalah nyeri menyesakkan
Gelung-gelung tanya betebaran
Dada ini kau sesakkan
________________________
Interup
:bro
Menangislah, Dek
Ketika air mata serupa
Sesak yang pendek
Hingga terbelah duka
________________________
Bintang
:friends
Taburan bintang lingkari rembulan
Ribuan atau jutaan
Aku tak bisa menghitungnya
Juga kemurahan yang nyata
Puisi berjudul Gelungku terdiri hanya dua bait. Dalam tiap bait, terdiri dari empat baris.
Pada bait pertama, Melingkari asamu/Tak kujumpai riakku/Lamat-lamat di antara sedu
Saat menyebutmu/ adalah lukisan kekecewaan lantaran tak menemukan jejak yang pernah penyair abadikan bersama.
Pada bait kedua, Antara hela dan tarikan/Adalah nyeri menyesakkan/Gelung-gelung tanya betebaran/Dada ini kau sesakkan. Penyair mulai melukiskan kekecewaannya yang begitu mendalam. Tak ada ketenangan dan keriangan yang menhampirinya. Yang penyair temukan hanyalah perih luka.
Pada puisi berjudul interup, yang hanya terdiri satu bait saja, hanyalah nasehat yang hendak penyair terjemahkan dalam gerak seseorang yang sangat dikenalnya. Lukisan hati penyair tampak jelas dalam rangkaian kata Menangislah, Dek/Ketika air mata serupa
/Sesak yang pendek/Hingga terbelah duka. Adalah solusi yang ditawarkan untuk mengusir segala kepenatan dan segala kesesakan. Jika dengan menangis semua luka bisa sirna maka menangislah. Inilah solusi hidup yang ditawarkan penyair dalam puisi Interup.
Pada puisi berjudul bintang, yang hanya terdiri dari empat baris ini, ada pernak pernik keindahan dan kebahagiaan yang coba digambarkan secara gamblang. Namun lagi-lagi penyair dengan bijaknya menyatakan bahwa keindahan dan nikmat yang diberikan Tuhan tak mampu dihitungnya.
Demikian ulasan sederhana dari anak madura yang memiliki pengetahuan yang serba sederhana. Serba tak punya apa-apa tanpa bimbinganNya.
Al-Amien, 31 Maret 2010
Komentar
Reni Teratai Air Terima kasih untuk ulasannya yang sangat cantik dan betul-betul dalam...
Anda sangat mengerti bahasaku :)
Berikut ini perkenankan saya mengulas tiga puisi karya sahabat penyair FB Reni Teratai Air. Berikut ini saya tulis secara utuh agar semua sahabat FB bisa menikmati puisi-puisi sang penyair.
Gelungku
:love
Melingkari asamu
Tak kujumpai riakku
Lamat-lamat di antara sedu
Saat menyebutmu
Antara hela dan tarikan
Adalah nyeri menyesakkan
Gelung-gelung tanya betebaran
Dada ini kau sesakkan
________________________
Interup
:bro
Menangislah, Dek
Ketika air mata serupa
Sesak yang pendek
Hingga terbelah duka
________________________
Bintang
:friends
Taburan bintang lingkari rembulan
Ribuan atau jutaan
Aku tak bisa menghitungnya
Juga kemurahan yang nyata
Puisi berjudul Gelungku terdiri hanya dua bait. Dalam tiap bait, terdiri dari empat baris.
Pada bait pertama, Melingkari asamu/Tak kujumpai riakku/Lamat-lamat di antara sedu
Saat menyebutmu/ adalah lukisan kekecewaan lantaran tak menemukan jejak yang pernah penyair abadikan bersama.
Pada bait kedua, Antara hela dan tarikan/Adalah nyeri menyesakkan/Gelung-gelung tanya betebaran/Dada ini kau sesakkan. Penyair mulai melukiskan kekecewaannya yang begitu mendalam. Tak ada ketenangan dan keriangan yang menhampirinya. Yang penyair temukan hanyalah perih luka.
Pada puisi berjudul interup, yang hanya terdiri satu bait saja, hanyalah nasehat yang hendak penyair terjemahkan dalam gerak seseorang yang sangat dikenalnya. Lukisan hati penyair tampak jelas dalam rangkaian kata Menangislah, Dek/Ketika air mata serupa
/Sesak yang pendek/Hingga terbelah duka. Adalah solusi yang ditawarkan untuk mengusir segala kepenatan dan segala kesesakan. Jika dengan menangis semua luka bisa sirna maka menangislah. Inilah solusi hidup yang ditawarkan penyair dalam puisi Interup.
Pada puisi berjudul bintang, yang hanya terdiri dari empat baris ini, ada pernak pernik keindahan dan kebahagiaan yang coba digambarkan secara gamblang. Namun lagi-lagi penyair dengan bijaknya menyatakan bahwa keindahan dan nikmat yang diberikan Tuhan tak mampu dihitungnya.
Demikian ulasan sederhana dari anak madura yang memiliki pengetahuan yang serba sederhana. Serba tak punya apa-apa tanpa bimbinganNya.
Al-Amien, 31 Maret 2010
Komentar
Reni Teratai Air Terima kasih untuk ulasannya yang sangat cantik dan betul-betul dalam...
Anda sangat mengerti bahasaku :)
MASIH ADA CINTA DAN RINDU DALAM PUISI
Sebuah Ulasan Puisi
Berikut ini perkenankan saya mengulas 3 puisi yang ditulis oleh tiga penyair. Kita simak sejenak semua puisi utuh yang ditulis penyair-penyairnya.
MEMUJAMU
Oleh Eka Huang
Oh Kasih… Kau telah mencuri
hatiku ribuan kali. Dalam
keindahan jubahmu yang tak
tertandingi, kau sungguh
menawan. Aku memujamu di
setiap hela nafasku. Jua
kau tak bosan mengisi cawan
jiwaku yang tlah kosong,
hingga setiap pertemuan kita
munculkan nafsu surgawi
dimana aku kehilangan diriku…
11.04.2010
KAWINI AKU
Oleh Faradina
datanglah
satu lelaki
yang sedia mengawini aku
tidak kuharap setumpuk uang
atau seperangkat alat shalat
sebagai mahar
hanya, selimut
buat penghangat
saat tubuhku gigil dibakar sepi
hingga malam bagiku tak pernah pagi
dahulu seorang lelaki
mengeja setiap inchi tubuhku
ia melukis rembulan di mimpiku
seperti kaleng tanpa isi, ia lemparkan aku
dalam senyap tanpa harap
bahkan, ia bawa serta mimpiku
kawini aku
dengan selembar mimpi
yang kau lukis dengan wajahmu
Sajak Rindu
Oleh Weni Suryani
Sajak-sajak rindu kubaca dengan lirih
kusembunyikan di balik kidung hujan
hanya dadaku yang mendengar
Bukan dadamu
Sebab kucari wajahmu di lidah malam
Ternyata hanya ada sepertiganya
Sisanya entah kau sembunyikan di mana
140110
Ketiga Puisi yang ditulis oleh tiga penyair FB ini hadir dengan gaya yang beraneka ragam. Ada yang lebih menonjolkan sisi pesan tanpa terlalu mabuk dengan metafor. Ada pula yang sesekali bercanda dengan metafor namun tidak terlalu mengagungkan metafor tersebut. Pada puisi ketiga lebih kental dengan metafor tanpa menganak tirikan isi pesannya.
Dalam puisi MEMUJAMU buah pena Eka Huang, lebih mengajak kita bercanda dengan puisi dari sudut maknanya. Puisinya sangat kental dengan makna, sedang metafora dalam penulisan puisi ini kurang terlalu mendapat tempat yang eksklusif. Pertemuan penyair dengan kekasihnya membuahkan perenungan yang sangat sensitif dengan dunia sufi, dimana aku kehilangan diriku adalah bait penutup yang kental dengan renungan. Hal inilah yang sangat menonjol dari puisi sahabat Eka Huang.
Berbeda dengan Sahabat Faradina dalam puisinya berjudul KAWINI AKU, sahabat Faradina tak hanya memfokuskan karyanya dari segi pesan saja namun metafor juga mendapatkan perhatian, dengan kata lain tidak dianak tirikan. Bait pertama dalam puisinya dibuka dengan bahasa hati tanpa menganak emaskan metafor, datanglah/satu lelaki/yang sedia mengawini aku.
Bait kedua masih di sampaikan dengan bahasa hati, bahasa yang lebih mudah dimengerti karena metafora belum ditampakkan. Barulah pada bait ketiga sang penyair mulai akrab dengan metafor. Kita bisa menemukan kata-kata segar di dalamnya semisal ia melukis rembulan di mimpiku . Sungguh lukisan hati yang sangat menawan. Kalimat yang penuh dengan cumbuan metafor yang memikat hati.
Rupanya keakraban penyair dengan metafor terus dipertahankan dan terus di arahkan pada sebuah puncak atau totalitas karya yang memukau. Panorama seperti ini, bisa kita nikmati pada bait terakhir dari karyanya kawini aku /dengan selembar mimpi /yang kau lukis dengan wajahmu. Kita berikan tepuk tangan untuk sahabat Faradina.
Sementara sahabat Weni hadir bersama puisi berjudul Sajak Rindu. Sahabat Weni rupanya lebih akrab dengan metafor. Dua bait puisinya ditulisnya dengan begitu anggun. Betapa rindu telah mengajari sahabat Weni untuk melukiskan isi hatinya dalam sebuah puisi yang sarat metafor. Sajak-sajak rindu kubaca dengan lirih/kusembunyikan di balik kidung hujan/hanya dadaku yang mendengar Bukan dadamu
Sebab kucari wajahmu di lidah malam/Ternyata hanya ada sepertiganya/Sisanya entah kau sembunyikan. Demikianlah penyair Weni mengisyaratkan rindu dalam puisinya yang sangat kental dengan metafor di bandingkan dua penyair yang ada dalam ulasan ini,
Al-Amien, 11 April 2010
Berikut ini perkenankan saya mengulas 3 puisi yang ditulis oleh tiga penyair. Kita simak sejenak semua puisi utuh yang ditulis penyair-penyairnya.
MEMUJAMU
Oleh Eka Huang
Oh Kasih… Kau telah mencuri
hatiku ribuan kali. Dalam
keindahan jubahmu yang tak
tertandingi, kau sungguh
menawan. Aku memujamu di
setiap hela nafasku. Jua
kau tak bosan mengisi cawan
jiwaku yang tlah kosong,
hingga setiap pertemuan kita
munculkan nafsu surgawi
dimana aku kehilangan diriku…
11.04.2010
KAWINI AKU
Oleh Faradina
datanglah
satu lelaki
yang sedia mengawini aku
tidak kuharap setumpuk uang
atau seperangkat alat shalat
sebagai mahar
hanya, selimut
buat penghangat
saat tubuhku gigil dibakar sepi
hingga malam bagiku tak pernah pagi
dahulu seorang lelaki
mengeja setiap inchi tubuhku
ia melukis rembulan di mimpiku
seperti kaleng tanpa isi, ia lemparkan aku
dalam senyap tanpa harap
bahkan, ia bawa serta mimpiku
kawini aku
dengan selembar mimpi
yang kau lukis dengan wajahmu
Sajak Rindu
Oleh Weni Suryani
Sajak-sajak rindu kubaca dengan lirih
kusembunyikan di balik kidung hujan
hanya dadaku yang mendengar
Bukan dadamu
Sebab kucari wajahmu di lidah malam
Ternyata hanya ada sepertiganya
Sisanya entah kau sembunyikan di mana
140110
Ketiga Puisi yang ditulis oleh tiga penyair FB ini hadir dengan gaya yang beraneka ragam. Ada yang lebih menonjolkan sisi pesan tanpa terlalu mabuk dengan metafor. Ada pula yang sesekali bercanda dengan metafor namun tidak terlalu mengagungkan metafor tersebut. Pada puisi ketiga lebih kental dengan metafor tanpa menganak tirikan isi pesannya.
Dalam puisi MEMUJAMU buah pena Eka Huang, lebih mengajak kita bercanda dengan puisi dari sudut maknanya. Puisinya sangat kental dengan makna, sedang metafora dalam penulisan puisi ini kurang terlalu mendapat tempat yang eksklusif. Pertemuan penyair dengan kekasihnya membuahkan perenungan yang sangat sensitif dengan dunia sufi, dimana aku kehilangan diriku adalah bait penutup yang kental dengan renungan. Hal inilah yang sangat menonjol dari puisi sahabat Eka Huang.
Berbeda dengan Sahabat Faradina dalam puisinya berjudul KAWINI AKU, sahabat Faradina tak hanya memfokuskan karyanya dari segi pesan saja namun metafor juga mendapatkan perhatian, dengan kata lain tidak dianak tirikan. Bait pertama dalam puisinya dibuka dengan bahasa hati tanpa menganak emaskan metafor, datanglah/satu lelaki/yang sedia mengawini aku.
Bait kedua masih di sampaikan dengan bahasa hati, bahasa yang lebih mudah dimengerti karena metafora belum ditampakkan. Barulah pada bait ketiga sang penyair mulai akrab dengan metafor. Kita bisa menemukan kata-kata segar di dalamnya semisal ia melukis rembulan di mimpiku . Sungguh lukisan hati yang sangat menawan. Kalimat yang penuh dengan cumbuan metafor yang memikat hati.
Rupanya keakraban penyair dengan metafor terus dipertahankan dan terus di arahkan pada sebuah puncak atau totalitas karya yang memukau. Panorama seperti ini, bisa kita nikmati pada bait terakhir dari karyanya kawini aku /dengan selembar mimpi /yang kau lukis dengan wajahmu. Kita berikan tepuk tangan untuk sahabat Faradina.
Sementara sahabat Weni hadir bersama puisi berjudul Sajak Rindu. Sahabat Weni rupanya lebih akrab dengan metafor. Dua bait puisinya ditulisnya dengan begitu anggun. Betapa rindu telah mengajari sahabat Weni untuk melukiskan isi hatinya dalam sebuah puisi yang sarat metafor. Sajak-sajak rindu kubaca dengan lirih/kusembunyikan di balik kidung hujan/hanya dadaku yang mendengar Bukan dadamu
Sebab kucari wajahmu di lidah malam/Ternyata hanya ada sepertiganya/Sisanya entah kau sembunyikan. Demikianlah penyair Weni mengisyaratkan rindu dalam puisinya yang sangat kental dengan metafor di bandingkan dua penyair yang ada dalam ulasan ini,
Al-Amien, 11 April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)