Kamis, 22 Juli 2010

PERJANJIAN PARA PEJUANG

tanah ini masih saja mendung
sepertinya tak berujung
malah deras hujan makin tampak mengancam
langit kelam, hitam

tanah ini bekas perjanjian para pejuang
darah hanyalah keringat yang terbuang
merdeka atau mati!
maka kami mati

tanah ini pernah muda, pada tahun kampret

bungabunga jatuh
di tanah basah
menyisakan batangbatang penuh lumut
semrawut

kemarin, tanah ini tanah perjanjian
tertulis berjuta harapan bergambar boneka

hari ini, tanah ini tanah serapahan
tertulis maki pada nafas cacingcacing yang bergelinjang
--------------------------------------------------------------

2010

Biodata Penyair
Jurang Sepi adalah nama pena Retno Handoko, lahir di Langkat, Sumatera Utara seorang Mahasiswa Universitas Islam Sumatera Utara jurusan sastra Inggris. Kini berdomisili di Bekasi. Kalau ingin mengenal penyair bisa menghubunginya di 081282825491

NURANI, GARUDA ITU

UDARA merdeka, udara mereka dihirup oleh berjuta mulut menganga. Nurani semakin tua. Ia terbatuk-batuk oleh segala bentuk pembangunan yang menyalahi aturan. Daerah Aliran Sungai tumbuh plaza, hypermarket, dan kondominium sementara di bawahnya gembel-gembel, gelandangan, dan anak jalanan menjolok bulan yang kusam. Pembangunan ekonomi yang gila-gilaan membawa bangsa ini menjadi konsumtif. Segala sesuatu diukur dengan ukuran limpahan materi.

Cuaca senja menjadikan Nurani semakin tua, bungkuk, dan tersaruk-saruk jalannya. Ia membayangkan jembatan dan jalan yang dulu ia bangun dengan gotong royong meneteskan keringat dan darah oleh kaki yang luka, ikhlas menyerahkan sebagian dari tanah dan airnya kini meruah airmata bangsa yang mengais nasib di seelokan dan tumpukan sampah pembangunan. Nurani semakin tua dan merasa sia-sia memanjatkan doa.

Burung-burung senja kembali melintas di atas mega. Garuda masih berpaling ke kanan dan di dadanya tergantung perisai yang penuh dengan simbol-simbol. Garuda itu terbang menembus mega, melabrak awan berarak, terbang bebas mengepakkan sayap-sayap keperkasaan. Nurani berbisik dalam hati, "akulah garuda yang melintas mega. Aku terbang menembus gumpalan awan menuju sarang keabadian. Ya, Allah jadikan sayapku perkasa mengepakkan doa-doa purba. Jadikan bulu-bulu di sekujur tubuhku sebagai rindu anak-cucu. Izinkan kini aku terbang menuju pulang ke sarang. Telah kulewati musim-musim pancaroba dan kini senja telah tiba. Aku terbang menuju Gerbang Istana-Mu, mengepakkan sayap-sayap rindu."

Garuda itu kini terbang di keluasan hatiku. Darahku berdebur-debur,menggelombang menerjang karang-karang kehidupan yang keras. Dinding-dinding dadaku menyatu dengan langit biru, menyimpan segala rindu.

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri
Jambi 19 juli 2010
Biodata Penyair
Dimas Arika Mihardja adalah seorang penyair Angkatan 2000 dan sekaligus seorang dosen puisi di Universitas Jambi

GARUDA PERTIWI

Akulah sang pengembara yang tak miliki pagi,siang,malam...
Bilangan masa bagiku sama saja...
Elang sang pengembara sejati, kembali dengan bekal yang cukup tinggi
Air mata darah itu makin mengiris semua lara...
Kesakitan yang teramat sangat...
Ku terbang tinggi melibas kabut langit melalukan badai!
Paruhku mencium sesuatu
Bau apapun cinta itu akan kuat jika berasal dari kuilNYA
Sebilah rindu menyembelih membabit!
Pencapain itu baru dimulai
Masih belum selesai...
Dan sepertinya tak akan pernah selesai karena setiap helaan nafas adalah obsesi.....
Mimpi-mimpi yang harus terbeli....
Lelaki tanpa senyum
Berdiri bak patung
Matanya membuang pandang sangat jalang
Bicarapun jarang
Sekali bicara, ia bak singa lapar....
Liar, gahar
Sangar mengaumkan kekecewaan pada gurun yang telah diberinya oase sekian
banyak...
Peluhnya tak terbayar!
Jangan salahkan ia jika harus menjadi pembunuh berdarah dingin
Boleh saja kau bersyair sedih..kecewa..lara apapun yang buruk-buruk itu..
Namun ungkapkan dengan sejatinya lelaki!
Meski dengan air mata tertahan
Kalau perlu jadikan batu air mata darahmu itu!
Lalu lelaki itu datang lagi
Ia kembali untuk menggugat..menggugah..menggubah...mengubah bangsa dan negeri ini
Ia tak pernah berhenti terbang...rela mengorbankan hatinya...cintanya buat sebuah pilihan!...
Menerjang kabut,melibas savanna kering, melintas pasir panas yang berbisik...
Memburumu atasNYA
Sayap-sayap baja yang kuat buat bangkitkan bangsa yang makin lemah ini..

Ia membela ibunya

Pertiwi yang kian hari menangis darah!
Ia dengan paruh tajamnya akan mematuk mata-mata kalian!
Para pendurhaka pertiwi...ibu kita yang tak lagi kuasa menahan air mata darahnya...
Merdekalah jiwa-jiwa!
Ia telah datang dengan sebentuk cinta yang sungguh untuk sebuah pembaharuan!
Geliat liat tubuhnya dan tubuhku
Adalah pemberontakan liar yang segera menggempur kau pengkhianat negeri!

Menteng Dalam Jakarta, 23 Mei 2010, buat laskar elang!


Biodata Penyair
Kirana Kejora dengan nama pena Eagle fly alone Terlahir di kota Ngawi, 2 Pebruari, single figther dari dua matahari titipan Tuhan, ”ELANG” Arga Lancana Yuananda (15) dan ”EIDELWEIS” Bunga Almira Yuananda (10). Mulai mencintai kertas dan pena sejak usia 9 tahun. Cinta pada puisi, prosa dan seni peran meski tak pernah ada dukungan formal sepanjang hayat. Just ordinary people. Hanya lulusan cumlaude Fakultas Perikanan Univ. Brawijaya yang dulu hanya jurnalis sebuah tabloid kecil di Surabaya, penulis lepas beberapa media cetak, dan kebetulan pernah menjadi Pemakalah, Pembicara pada Seminar Wajah Kepengarangan Muslimah Nusantara Di Malaysia pada tahun 2009. Merasa besar dan belajar di jalan, gunung, gurun, laut, dan langit yang terus dirunut bersama kawan, sahabat, dan saudara yang ditemukan di manapun.Juga banyak belajar pada debu dan angin. Dan merasa wajib terus belajar, berujar, mengejar, setelah kebetulan lagi, bisa menulis 30 Script Film TV, 4 Script Film Layar Lebar, 3 video klip solois Nena (script & director), video klip single ”Aku Selingkuh” by Ade Virguna (script & director) dan kolaborasi 8 puisi dalam album Selingkuh (independent album) dengan Ade Virguna (gitaris Jet Liar dan RriD), serta Alhamdulillah bisa menulis buku Kepak Elang Merangkai Eidelweis (Novelete & Antologi Puisi Tunggal), Selingkuh (Antologi Tunggal Cerpen & Puisi), Perempuan & Daun (Antologi Tunggal Cerpen & Puisi), berbagi puisi di buku Musibah Gempa Padang (Antologi Penyair Indonesia-Malaysia), dan kembali bisa melahirkan Elang (Novel) dan Janji Biru Mahameru (Novel). Kirana Kejora merasa masih menjadi sehelai bulu ayam yang ingin menjadi sayap elang.

AKU TULIS UNTUK KAMU

Merapi tetap merendah ditengah pulau Jawa.
Diantara hiruk pikuk kepadatan manusia.
Rumor hujan meteor menyajak kerentaan semesta.
Tak kentara namun terasa dalam kidung nalar.
Seukuran hati berserenade jiwa.

Krakatau tetap tenang tak galau.
Ditengah laut ujung barat pulau Jawa.
Seakan tak ingin terusik dari kebisingan racau.
Dalam senyawa stigma politik.
Alam membuat tempat perenungan.
Untuk mengumandangkan kearifan semesta.

Bumi yang tua tampak bungkuk.
Menahan beban manusia.
Menopang rumusan limbah dan polusi.
Tetap bijak menerima mayat untuk dikuburkan.
Meskipun kotoran terserak ditanah.
Walaupun lumpur sampah setia mengalir.

Langit menyenja biru dongker.
Awan merenta putih kecoklatan.
Matahari sebegitu menyengat isi kedalaman diri.
Rembulan meraut kegamangan malam.
Untaian tautan hidup bergeser jarak keyakinan.
Antara batasan ada dan tiada ada.
Manusia berusaha mengekalkan wujud impian.
Antara dimensi hamba dan Tuhan.
Manusia menjadi pembatah yang nyata.

Terang berarak menuju gelap.
Keresahan sudah terbiasa berada dalam hati.
Kegelisahan sudah melarut setiap jarak pandang.
Manusia lahir.
Manusia hidup.
Manusia mati.
Fase-fase kisi-kisi nafas.
Mencerna kesaksian perjalanan indera.
Dari masa ke masa.

-------------------------
Jakarta, 05 Mei 2010
Biodata Penyair
Muna Yuki Sastradirja, lahir 27 April 1980. Kini tinggal di Jln Petamburan VII, Rt. 009/06 No. 21 Kelurahan Petamburan Kecamatan Tanah Abang. Kode Pos 10260. Jakarta Pusat. No 021 95113933

KEMBALIKAN PARU-PARU BANGSAKU

aku sudah bosan dengan aroma tulisan
: anyirnya darah

bagaimana jika ku ganti suasana lukisan
: air dan tanah

ah, selalu saja kita menghasilkan luka goresan
: banjir yang parah

manusia,
kembalikan laut dan hutanku!


10 Januari 2010
Biodata Penyair
Badut 'PC' Gila, lahir di Surabaya 16 November dan berdomisili di Surabaya. Segala hal yang ingin ditanyakan pada penyair bisa melalui phone: 03172722355 - 085850404446

Minggu, 18 Juli 2010

KOLECER & HARI RAYA HANTU



Sebuah Ulasan Tentang 20 Cerita Pendek Kearifan Lokal

Benny Arnas, Cesellia Ces, Gunawan Maryanto, Hanna Fransisca, Iwan Soekri, Krisna Pabicara, Nenden Lilils A, Noena, Oka Rusmini, Sastri Bakry, Saut Poltak Tambunan telah melahirkan karya brilian dari tangan mereka. Sebuah karya yang berusaha menampilkan kekayaan kebudayaan indonesia kepada seluruh dunia pada umumnya dan kepada putra-putri nusantra pada khususnya.
Sungguh usaha yang sangat langka ini patut kita acungi jempol dan patut kita apreasiasi mengingat pengetahuan kita tentang kebudayaan lokal sangat minim. Barangkali dengan begitu kita akan lebih mengenal dan lebih mencintai negara kita.
Terbitnya buku KOLECER & HARI RAYA HANTU ini paling tidak membuktikan bahwa indonesia tak hanya kaya dengan kekayaan alam yang melimpah melainkan kaya dengan kebudayaan lokal yang unik, menarik walau di dalamnya terdapat berbagai peristiwa yang belum mampu kita maknai hikmah.
Akhirnya hanya ucapan terikasih yang bicara saya haturkan kepada para penulisnya dan kepada para pembaca yang ingin mengenal kekayaan budaya lokal indonesia tak ada salahnya bila berlomba-lomba memiliki buku ini.

Al-Amien, 18 Juli 2010

Rabu, 12 Mei 2010

KITA SAUDARA DALAM DESIR ANGIN NEGERI

Aku tak mengunci pintu silaturrahmi
Masuklah badai
Masuklah sepoi
Bukankah kita saudara dalam desir angin negeri

Al-Amien, 12 Mei 2010